Tapi bagi saya itu menjadi moment yang seru dan tidak terlupakan karena fase ini tidak akan terjadi ketika anak kita dewasa. So, berdamailah dan nikmatilah setiap fase anak balita kita dengan cara yang benar dan tepat pastinya๐๐
Naah.. kali ini saya ingin share materi yang pernah saya ikuti bersama teh Herly Novita Sari, M.Psi tentang menghadapi Tantrum pada anak balita.
Tantrum adalah Sebuah ledakan kemarahan yang hebat yang terlihat dalam sebuah bentuk perilaku.
Perilaku yang berupa tindakan “dramatis” (jatuh ke lantai, menendang, berteriak,dll)
yang dilakukan sebagai reaksi terhadap peristiwa yang menjengkelkan.
Menjadikan tantrum sebagai salah satu cara yang efektif untuk mendapatkan “perhatian”.
Dapat juga digunakan sebagai cara untuk mendapatkan hal atau sesuatu yang diinginkan.
Apakah tantrum normal terjadi pada balita?
Perilaku tantrum ini biasanya muncul dan normal terjadi dalam fase perkembangan anak.
Rentang usia munculnya perilaku tantrum ini biasanya terjadi pada rentang usia 18 – 48 bulan.
Mengapa pada usia tersebut masih termasuk normal? Karena pada usia tersebut termasuk masa-masa dimana perkembangan kognitif anak mulai berkembang secara pesat, namun tidak di iringi dengan perkembangan bahasa dan emosional.
Bagaimana tantrum terjadi?
Tahap pertama di awali dengan mulai “rumbling & grumbling” stage, dimana anak mulai ngedumel, merajuk dan meminta paksa tentang hal/ sesuatu yang ia inginkan.
Ditandai dengan tawaran atau tindakan apapun yang orangtua tawarkan atau lakukan, tidak ada yang benar-benar bisa memuaskan sang anak, kecuali mendapatkan apa yang diinginkannya.
Dengan sedikit respon orangtua yang dianggap “provokasi” atau “kritikan” oleh anak, amarah bisa semakin meledak-ledak, biasanya ini fase dimana anak menangis sambil berteriak, berguling-guling bahkan merusak sesuatu.
Jika anak masih menolak semua upaya yang orangtua tawarkan, maka anak akan semakin menunjukkan sikap menentangnya.
*pada fase ini, ketenangan diri orangtua sangat diperlukan .
Selanjutnya tantrum mulai mereda, namun masih di fase depresi berubah menjadi agresi, anak minta ditinggalkan, mau sendiri.
Sebab terjadinya tantrum
Menurut Albert Trieschman, tantrum bisa terjadi bukan karena disebabkan oleh satu penyebab atau satu peristiwa saja, melainkan dikarenakan beberapa penyebab atau peristiwa.
Yang perlu sama-sama kita pahami ialah bahwa “Anger is Normal “, reaksi yang bersifat alami saat kita mengalami frustasi atau terancam atau ketika tidak bisa mendapatkan hal yang sedang sangat di inginkan.
Beberapa faktor yang mungkin ialah :
Mengalami kondisi frustasi/ terancam/ merasa kesal karena tidak bisa mendapatkan apa yang sedang sangat diinginkan.
Meniru atau mencontoh perilaku orang dewasa/ teman sebaya (terkait tantrum ini)
Kemampuan anak yang masih terbatas dalam mengenali dan mengkomunikasikan emosi yang dirasakannya.
Mendapatkan pengalaman bahwa dengan cara tantrum, ia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.
Bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir tantrum?
1. Tetapkan rutinitas
2. Penuhi kebutuhan dasar anak (fisik dan psikis)
3. Berikan contoh pada anak bagaimana kita sebagai orangtua mengekspresikan kemarahan.
4. Tetapkan batasan
5. Lakukan reaksi yang tepat saat anak baru mulai menunjukkan gejala awal tantrum, misal saat anak baru mulai merengek, gunakan cara-cara efektif dalam membantu anak mengenali dan mengelola emosinya.
6. Latihan relaksasi (untuk anak dapat berupaya menenangkan diri).
Apa yang harus orangtua lakukan saat anak bersikap tantrum?
1. Memastikan bahwa tantrum yang di munculkan oleh anak bukan disebabkan kebutuhan fisiknya, misal lapar, ngantuk, lelah. Karena jika dikarenakan kebutuhan fisiknya, upayakan penuhi dulu kebutuhan tersebut.
2. Saat anak tantrum:
Ignoring atau mengabaikan dan jangan berikan positive reinforcement dalam bentuk apapun.
3. Tinggalkan anak (jika memungkinkan dan pastikan anak dalam keadaan aman), namun katakan padanya sebelum meninggalkannya bahwa orangtua ada dan siap bicara jika anak sudah dalam keadaan lebih tenang.
4. Ajarkan anak cara mengenali emosi dan bagaimana ia mengekspresikannya jika sedang merasakan sesuatu yang membuatnya frustasi atau sedang sangat menginginkan sesuatu.
5. Berikan alternative-alternative cara yang dapat anak pilih untuk menyampaikan semua perasaan dan emosi yang dirasakannya.
Naah ini ada beberapa pertanyaan yang mungkin kita juga ada yg mengalaminya niih:
1️⃣ Q1: - Bagaimana caranya menerapkan batasan dan menuntun anak pada usia 1,5 tahun untuk mengekspresikan emosinya, serta adakah tips untuk mengajarkan latihan relaksasi dan menerapkan rutinitas yang baik pada anak?
A1 : Batasan disini itu lebih kepada memberitahu cara2 yang anak boleh lakukan.
Jadi emosi itu, tidak ada yang salah. Marah, sedih, senang, takut, itu semua jenis emosi. Sifatnya spontan, tidak bisa di tahan, sebagai bentuk respon terhadap suatu hal/Peristiwa. Nah yang perlu kita batasi ialah
1. *ekspresi emosinya*. Misal: Sedihnya boleh, tapi nangis meraung2nya ga boleh. Marahnya boleh, tapi melempar2 barangnya tidak boleh, dsb.
Untuk usia 1,5th, karena keterbatasan bahasa, bisa langsung di berikan dalam bentuk perintah atau tindakan konkrit. Misal, ade sini duduk, minum. Bunda peluk.
Yang anak terbayang dan ia mengerti..
Tips relaksasi yang sering di ajarkan ke anak2 ialah berhitung.
Bisa dibantu dgn makanan/mainan kesukaan, sambil di ajak duduk.
2. Rutinitas. Nah ini, dimulai dari kebutuhan fisiknya dulu. Misalnya jadwal makan, tidur, sudah di biasakan. Kemudian jadwal main.
Kalau ternyata sedang harus pergi keluar rumah, sebisa mungkin jadwal makan dan tidur disamakan, kalau tidak bisa, dibantu dengan sounding agar anak mengerti dan kooperatif.
2️⃣ Q2 : Tadi saya membaca di slide bahwa mengatasi tantrum dengan membuat rutinitas, rutinitas yang bagaimanakah yg dimaksud, apakah harus membuat jadwal harian agar tidak ada celah anak merasa bosan dan merasa tangki cintanya penuh?
Beberapa waktu berlalu saya pun mengajak anak bermain dengan jadwal, tetapi ada masa tidak terjadwal dia pun rewel apakah ini juga bagian rutinitas bermain dengan jadwal?
A2 : Dalam rutinitas yang sudah kita buat, berikan ruang untuk anak bebas, semacam waktu bebas.
Rutinitas yang penting terkait upaya minimalisir tantrum disini ialah seputar kebutuhan fisik, spesifiknya makan dan tidur. Anak2 kalau 2 hal ini terganggu, biasanya lebih rentang rewel atau sensitif teh, cranky gt ya anak2 mah.
Misalnya di jam dia biasa bobo, tp dia ga bisa bobo karena perjalanan, nah ini bisa2 selama perjalanan, dia lebih mudah rewel, di banding kalau kita pergi sesudah jam dia bobo.
Kita maksimalkan sesuai rutinitas, namun kalau tidak bisa, kita bantu dg sounding.
Kemudian semakin bertambah usia, biasanya tantrum ini mulai berkurang karena kemampuan mengendalikan emosi dan bahasanya yg jg semakin meningkat.
3️⃣ Q3 : - Apakah anak usia delapan tahun menangis sampai sesenggukan sambil mengomel karena kecewa tidak dapat menyelesaikan tugas itu bisa dikatakan tantrum bu?
- Apakah masih wajar bu usia diatas lima tahun menangis, mengamuk, berteriak serta menendang-nendang barang disekitarnya apabila keinginannya tidak terpenuhi? Apakah ada kaitannya pola asuh permisif dengan tantrum yang selalu dialami oleh anak?
A3 : 1. Kalau usia 8th, seharusnya sudah tidak lagi mengalami tantrum. Tapi usia 8th, belum terampil mengelola dan mengekspresikan emosi itu iya. Jadi masuknya ke yang kedua. Tapi kalau ternyata memang masih nampak ciri2 tantrum, berarti bisa dikonsultasikan lebih lanjut dg psikolog terdekat.
2. Usia 12-48bulan itu memang usia pada umumnya. Namun jika masih ada yang menunjukkannya di usia 5th, itu bisa jadi warning. Dalam arti, kalau di usia 5th, dia sudah menunjukkan progress jika di bandingkan dg usianya yang 3th misalnya, berarti ga masalah. Anak ini hanya membutuhkan waktu dan kesempatan lebih lama sebagai sarana berlatih mengelola dan meregulasikan emosinya. Terus dampingi dengan konsisten aja.
Pola asuh ada kaitannya, karena bila anak merasa efektif menggunakan cara tantrum untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan menggunakan cara ini terus.
Nah untuk kasus menangis, mengomel, sesenggukan, berarti itu adalah cara yang dia pilih untuk regulasi emosi.
Dikembalikan kepada orangtua, bolehkah cara seperti itu?
Dampingi dan bantu kalau ternyata ada cara lain yang dirasa lebih efektif.
4️⃣ Q4 : Mam saya ingin bertanya, sebenarnya tantrum pada anak balita merupakan suatu hal yang merujuk lebih ke negatif atau positif ? Karna dikatakan dalam diri seorang anak terdapat yang namanya kecerdasan emosional, nah bagaimana sikap kita sebagai orang tua jika tantrum merupakan suatu hal yang juga berdampak positif bagi anak?
A4 : Betuullllll, mind set itu perlu ya ibu ibu dalam parenting.
Tantrum memang bisa dikatakan normal dalam fase perkembangan, nah berarti kalau normal, ada tujuannya dong?
Iya ada. Fase tantrum sebenarnya merupakan momen dimana anak belajar mengelola dan meregulasi emosinya.
Hanya kita ga bisa berharap sekali anak tantrum, kita sikapi tepat, trus langsung jago.
Bertahap itu sudah pasti.
Selama anak menunjukkan progress, kita terus saja dampingi.
Terkait lelah yang di rasakan orangtua saat mendampingi fase anak "senang" tantrum, itu sudah pasti.
Jadi kita pun juga belajar mengelola emosi selama mendampingi putra putri kita.
Saya suka menggunakan istilah "inner peace" yang di dalam kungfu panda, untuk menggambarkan kondisi orangtua yang diperlukan dalam mendampingi dan membersamai fase TANTRUM anak2 kita.
5️⃣ Q5 : Ketika anak mandi, dia sulit untuk dikendalikan, tidak mau duduk, maunya berdiri dan sulit diajak selesai. Setelah itu saat ganti baju susah sekali, akhirnya ngamuk, suka membanting diri ke arah belakang tp dalam posisi duduk kemudian seperti posisi mau rol depan. Dan diakhiri menangis.
Bagaimana cara untuk menghadapi dan mengatasinya, karna hampir setiap hari dia seperti itu, lumayan kuwalahan kalo lagi sendirian di rumah.
A5 : Yang kalau di ajak mandi, ga mau, tp sekalinya berhasil bujuk mau mandi, terus di suruh selesainya juga susah? Seperti itu kah?
Dan apakah setiap momen pakai baju? Atau karena "dipaksa" udahan mandi, makanya dia marah saat di pakaikan baju?
Bisa mulai di kenalkan timer teh.
Misalnya kita gunakan jam mainan, untuk reminder 10 menit lagi kita mandi yuukkkk.
Buat menyenangkan, kalau saya dulu beli mainan huruf angka yang bisa di tempel2 di dinding kamar mandi. Atau apa aja buat ia merasakan momen mandi itu menyenangkan.
Kalau anak ga suka di siram kepala pakai gayung, gpp kita gunakan tangan, sedikit demi sedikit kita kucurkan, dsb. Jangan paksa hingga khawatirnya anak merekam memori mandi itu tidak menyenangkan.
Kemudian kita reminder lagi berapa lama wktu selesai mandinya.
Motivasi dia saat selesai mandi, kita mau melakukan hal kesukaan, misal ngemil kue, atau main puzzle, dsb.
6️⃣ Q6 : 1. Pada materi disebutkan bahwa tantrum umumnya terjadi pada usia 18-48 bulan. Apakah dibawah itu anak tidak bisa mengalami tantrum? Anak saya saat ini usia 15 bulan. Saat keinginannya tidak dituruti seringkali merengek sambil melempar barang2. Apakah itu hanya lampiasan emosi biasa/termasuk tantrum?
2. Orang2 sekitar bilang anak saya tipikal yg strong-willed, ketika ingin A ya maunya A. Ketika tidak mau, ya tidak mau. Susah sekali utk diarahkan ke yg lain. Bagaimana cara utk sedikit meredam karakter tsb, agar lebih mudah diarahkan?
3. Apakah boleh jika saat anak mulai merengek2, kita alihkan perhatiannya ke hal lain supaya dia lupa? Atau haruskah kita diskusikan perihal yg membuatnya merengek2 tadi hingga tuntas?
A6 : 1. Bisa teh, usia 18-48 itu pada umumnya. Namun selalu saja ada anak yang mulai lebih cepat atau selesai lebih lama.
2. Wah seru teh kalau bahas tentang anak strong willed child, saya pernah mengadakan kelas pendampingan untuk bunda2 yang memiliki anak dengan karakteristik Strong Willed, MasyaAllah teh, memang hampir sama yang di rasakan bahwa anak mereka keras kepala, sensitif, jago negosiasi alias seneng membantah. Jadi memang kalau kita lihat sisi negatif anak, semuanya akan tampak negatif , jadi frame di kepala kita anak yang di hadapan qo banyak banget negatif2nya. Padahal strong willed child kalau kita pandang dari sisi positifnya, mereka itu tipe anak pejuang, gigih kalau ada kemauan, pantang menyerah. Ini modal untuk ia saat besar nanti. Tapi memang saat masih kecilnya masih di rasakan pe er sekali membantunya mengelola emosinya tersebut.
3. Tergantung apa yang menjadi penyebab rengekannya teh. Tp kita on the track saja pada prinsip/value yang kita anut. Kita pantulkan emosinya, namun dg tegas kita tetap tidak bisa wujudkan keinginan nya, boleh berikan alternatif yang boleh nya apa (saat itu atau lain waktu).
Kuncinya regulasi emosi dulu, selesaikan release dulu. Baru mulai aktivitas lainnya.
7️⃣ Q7 : Jika orang tua hilang kendali tapi berusaha tetap menahan emosi ketika anak tantrum, bagaimana tindakan selanjutnya orang tua terhadap anak yg sedang yang sedang tantrum?
A7 : Kalau posisi sedang sendirian, boleh mengatakan kepada anak bahwa bunda butuh ruang untuk release emosi sebentar, karena ade terus2 aja menjerit2 dan teriak2. Nanti kalau ade sudah lebih tenang, bunda siap kita bicara.
Nah saat itu, silahkan kita menenangkan diri mengambil jeda. Bisa misalnya kita sudah siapkan amunisi coklat, maka ambillah coklat itu, kita makan sambil minum es coklat misalnya, kemudian duduk sambil mengatur ritme pernafasan (rileksasi).
Atau yang terbiasa menelepon suami yang sedang di kantor, hanya untuk release emosi, itu juga bisa (kalau sudah di sepakati dgn suami ya).
Kalau sedang ada bala bantuan, bisa suami atau mertua, bisa minta tlg untuk gantian jaga sekedar untuk take time aja. Namun pastikan, orang yang membantu kita itu sudah sejalan, sevisi misi dalam merespon tingkah laku anak.
Jangan malah membuat tantrum ini rentan berulang di kemudian hari karena mendapatkan apa yang di inginkan dg cara tantrum.
8️⃣ Q8 : - Bagaimana cara menyikapi anak ketika sedang tantrum?
- Sikap apa yang harus kita ambil saat anak tantrum di depan umum? Misal di tempat keramaian, Mall, tempat wisata.
A8 : Yang diperlukan menyikapi anak saat sedang tantrum ialah tenang.
Jika kita membutuhkan waktu untuk jeda, lakukanlah. Tips nya sudah di jawaban sebelumnya.
Kita amati tantrum nya, apakah sebagai bentuk/cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan? Kalau iya, tetap on the track aja. Tegas. Katakan bahwa bunda sayang ade, bunda maunya ade belajar bilang mau nya apa secara baik2. Maaf bunda ga bisa nurutin kemauan ade, apalagi kalau ngomong nya tidak baik2.
Tinggalkan jika memang mungkin (pastikan kondisi dd aman), katakan bunda akan kembali saat ade sudah lebih tenang dan bisa bicara.
Bunda ada di sini jika ade mau k bunda atau bunda peluk. Ini ada minum kalau ade mau minum.
Bertahan aja terus, sesekali katakan bahwa bunda siap bicara kalau ade sudah bisa lebih tenang.
Kalau di tempat wisata/umum, pastikan anak sudah di briefing dulu mengenai do and don't nya.
Saat mulai menunjukkan merajuk, ingatkan bahwa tadi sudah sepakat.
Kalau masih mengamuk, bisa bertahan disitu, namun kalau khawatir mengganggu orang lain, bisa di ajak ke tempat yang lebih sepi dan kemudian sikapi seperti biasa saat sedang tantrum dirumah.
Nah, Masyaa Allah.. Seru yaa pembahasannya. Daging bangeet. Kita jadi mengerti tantrum tuh apa, bagaimana cara menyikapinya. Daaan ingat! Tantrum terjadi kepada anak kita, tidak semua negatif. Kita bisa mengubahnya dengan bersikap positif. Semoga kita bisa menikmati dan menyikapinya dengan cara yang benar dan tepat. Semoga bermanfaat ya..
Semangat bagi pada orangtua yang mempunya anak balita ๐๐ช
Salam Inspirasi ๐
Tidak ada komentar:
Posting Komentar