28 September 2025
Hari yang dulu hanya menjadi tulisan di buku mimpi… akhirnya benar-benar dimulai.
Jam 19.00 WIB kami tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Rasanya campur aduk. Antara lelah, deg-degan, excited, dan masih setengah nggak percaya kalau sebentar lagi akan terbang menuju Jepang.
Sore itu MasyaAllah… benar-benar memacu adrenalin. 😭
Semuanya terasa buru-buru dan penuh drama kecil yang ternyata justru jadi cerita indah.
Awalnya kami berencana menggunakan transportasi umum, bus Damri, supaya lebih hemat dan praktis. Tapi Qadarullah… ternyata jadwal bus hanya satu jam sekali. Kami sampai di CCM sekitar pukul 17.05 dan bus sebelumnya baru saja berangkat.
Saat itu sempat panik.
Karena waktu menuju bandara semakin mepet.
Dan kalau dipikir-pikir sekarang… mungkin itu memang cara Allah menyelamatkan perjalanan kami.
Nggak kebayang kalau benar-benar naik bus dari Bogor jam segitu, mungkin kami akan jauh lebih lama sampai Terminal 3. Belum lagi kondisi jalanan sore hari yang cukup padat.
Akhirnya kami memutuskan menggunakan mobil online. Memang biayanya lebih mahal, tapi Alhamdulillah… keputusan itu membuat kami tiba tepat waktu untuk proses check-in internasional.
Dan ternyata benar…
Penerbangan internasional prosesnya jauh lebih panjang dibanding domestik. Mulai dari check bagasi, pemeriksaan kabin, dokumen perjalanan, hingga antrean yang cukup menguras waktu.
Tapi justru di situ rasanya mulai muncul perasaan:
“Ya Allah… ini benar-benar mau ke Jepang.” 🥹🇯🇵
Kami menggunakan ANA Airlines NH 856 rute Jakarta – Tokyo International Airport.
Sebelum boarding, Alhamdulillah kami sempat beristirahat di Sapphire Lounge bersama teman-teman seperjalanan. Kami dinner, sholat, lalu duduk santai sambil ngobrol hangat tentang perjalanan, bisnis, dan mimpi-mimpi besar ke depan.
Dan jujur… di lounge itu aku seperti mendapatkan pelajaran baru tentang kehidupan.
Aku memperhatikan orang-orang di sekitar.
Ada yang membuka laptop sambil makan.
Ada yang meeting online.
Ada yang mengetik cepat sambil sesekali menyeruput kopi.
Seolah-olah waktu mereka terlalu berharga untuk hanya dipakai menunggu keberangkatan.
Di situ aku mulai memahami sesuatu…
“Oh… jadi ini alasan mereka memilih lounge.”
Bukan hanya untuk istirahat.
Tapi juga agar tetap produktif di sela perjalanan.
Aku jadi sadar, kenapa banyak orang sukses terlihat selalu selangkah lebih maju. Karena mereka benar-benar menghargai waktu.
Tidak banyak waktu yang terbuang sia-sia.
Time is money.
Dan malam itu, aku belajar langsung dari suasana kecil di bandara internasional. ✨
Tak lama kemudian, perjalanan menuju Jepang pun dimulai.
Selama di dalam pesawat, pelayanan ANA Airlines benar-benar berkesan. Everything feels so well organized and professional.
Kami beberapa kali mendapatkan snack time. Ada roti, KitKat, snack stick yang rasanya familiar seperti di Indonesia, serta minuman dingin yang dibagikan dengan sangat rapi. Bahkan jam pembagiannya pun terasa teratur sekali.
Lalu sekitar pukul 03.00 dini hari kami dibangunkan untuk breakfast… atau mungkin lebih cocok disebut sahur ya? 😄
Karena pesawat akan landing pagi hari, jadi penumpang diminta makan terlebih dahulu.
Pramugari menawarkan dua pilihan menu:
Fish or chicken?
Aku memilih fish.
Dan ternyata rasanya cukup cocok di lidah Indonesia. Ada kentang rebus dengan saus creamy asam tomat khas Jepang. Awalnya aku kira rasanya akan aneh, tapi surprisingly… lumayan enak juga.
Pengalaman kecil seperti itu justru jadi hal yang paling membekas.
Alhamdulillah… akhirnya kami tiba di Tokyo International Airport sekitar pukul 06.30 pagi waktu setempat.
Saat roda pesawat menyentuh daratan Jepang, rasanya hati ini langsung berkata:
“Ya Allah… aku benar-benar sampai.” 🤍
Negeri yang dulu hanya ada di angan, tulisan, dan doa… kini ada tepat di depan mata.
Setelah turun dari pesawat, kami melanjutkan proses imigrasi dan pengambilan koper bagasi. Antreannya panjang sekali dan cukup memakan waktu karena begitu banyak wisatawan yang datang dari berbagai negara. Bahkan cukup banyak juga wisatawan dari Indonesia.
Di situ aku semakin sadar…
Jepang memang punya daya tarik luar biasa di mata dunia.
Tapi ada satu hal yang paling membuat kami kagum sejak pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Sakura ini…
Walaupun ini bandara internasional, orang Jepang tetap sangat menjaga bahasa dan budaya mereka. Banyak petugas yang tetap menggunakan bahasa Jepang dalam percakapan sehari-hari, dan tidak semuanya fasih berbahasa Inggris.
Namun justru di situlah letak kekagumannya.
Mereka maju tanpa kehilangan identitas bangsanya.
Mereka modern tanpa meninggalkan budayanya.
Mereka berkembang tanpa malu menggunakan bahasa sendiri.
Dan itu menjadi kesan pertama kami tentang Jepang.
Salam inspiratif,
@rinanisaa