"Pertemuan terbaik bukan hanya tentang rasa, tapi tentang arah yang sama."
Kala itu, dunia kampus seperti tak pernah memberi jeda. Pagi hingga malam, hidupku dipenuhi agenda rapat, pelatihan, dan seabrek kepanitiaan. Sebagai mahasiswi baru yang begitu antusias mengejar pengalaman, aku nyaris mencicipi semua organisasi internal. Namun di tengah kesibukan itu, aku mulai bertanya pada diriku sendiri: “Apakah hanya ini caraku bertumbuh?”
Aku mulai merindukan dunia nyata—tempat aku bisa mengasah skill, membangun jaringan, dan belajar tentang kehidupan setelah kampus. Maka aku mencari jalan keluar. Dan jalan itu membawaku pada sebuah komunitas bisnis anak muda. Siapa sangka, di sanalah kisah ini dimulai.
Di komunitas itu, aku bertemu dengannya—seseorang yang saat itu menjabat sebagai ketua umum. Aku sendiri terpilih sebagai sekretaris dalam tim pengurus baru. Pertemuan pertama kami biasa saja, hanya obrolan ringan seputar program kerja. Tapi seiring berjalannya waktu, diskusi kami semakin dalam. Ternyata, kami sama-sama haus akan tantangan, sama-sama gila ide dan peluang.
Satu kesempatan besar datang: mengelola taman jajan, semacam foodcourt di halaman sebuah sekolah ternama di Depok. Proyek ini menjadi awal petualangan kami. Bersama teman-teman komunitas, kami merancang konsep, membagi peran, menyusun strategi. Kami bermimpi membangun tempat ini jadi pusat belajar berbisnis bagi mahasiswa.
Di sela kesibukan mengatur gerobak dan membuat flyer promosi, kami pun semakin sering berdiskusi tentang mimpi. Ternyata, meski latar belakang kami berbeda—aku dari Manajemen Bisnis Syariah, dia dari Hukum—kami punya satu kesamaan kuat: sama-sama mencintai dunia pendidikan. Mimpi kami nyambung. Arah kami sama.
Tapi, ketika hati mulai terlibat, kami sadar: tidak mungkin terus berjalan berdua tanpa kejelasan. Kami takut usaha kami yang mulia berubah menjadi fitnah. Namun, saat itu, aku tengah berada di titik puncak perjuanganku. Aku sedang menerima dua beasiswa bergengsi—satu dari kampus, dan satu lagi dari lembaga filantropi yang tengah menyiapkan kader pakar ekonomi syariah. Keduanya melarang tegas penerimanya menikah selama masa program.
Aku bimbang. Haruskah aku mempertahankan dua beasiswa yang sangat berharga itu? Atau memilih jalan baru yang belum tentu aman, tapi terasa benar?
Berhari-hari aku berdoa, menangis dalam istikharah, berbicara dari hati ke hati dengan murabbiyah, orang tua, dan mentorku. Sampai akhirnya, aku memutuskan: Bismillah...
Kami menikah. Ya, aku memilih kehilangan beasiswa, tapi aku yakin tidak kehilangan masa depan. Aku melepaskan dua beasiswa bukan karena menyerah, tapi karena memilih untuk memperjuangkan mimpi bersama seseorang yang memiliki arah hidup sejalan. Ini bukan akhir dari perjuangan. Ini adalah awal dari petualangan cinta dan karya.
Karena dalam hidup, terkadang jalan terbaik bukan yang paling aman, tapi yang paling bermakna.
Salam inspiratif,
@rinanisaa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar