Hari itu, matahari bersinar seperti biasa. Tidak ada firasat. Tidak ada langit mendung. Tidak ada hujan yang turun sebagai peringatan. Tapi nyatanya, kehidupan kami berubah hanya dalam hitungan menit.
Perjalanan yang Tak Mudah
Sebelum semua ini terjadi, kami sudah melewati perjuangan panjang. Memutuskan untuk pindah lokasi sekolah adalah keputusan yang tak mudah. Ada begitu banyak pertimbangan, begitu banyak risiko, dan jujur saja begitu banyak ketakutan.
Kami tahu tidak semua orang akan siap menerima.
Kami tahu sebagian orangtua akan mundur.
Kami tahu akan ada siswa yang memilih pergi.
Dan memang benar, Itu semua terjadi.
Tapi bagi kami, perjuangan mendirikan sekolah bukan tentang jumlah murid semata.
Ini tentang niat. Ini tentang misi membangun peradaban dari hati-hati yang suci.
Kami butuh lingkungan yang lebih baik. Lebih tenang, lebih bersih, lebih mendukung ruh pendidikan dan tahfidz yang kami perjuangkan.
Jadi, kami memantapkan hati dan melangkah.
Pindah ke tempat yang lebih asri. Merintis kembali.
Satu per satu kamar direnovasi.
Para santri ikhwan akhirnya mendapat fasilitas baru: ranjang susun, lemari pribadi, bahkan seragam sekolah khusus dari IAN.
Kami melihat harapan.
Kami melihat anak-anak tersenyum bahagia menerima seragam barunya.
Kami melihat guru-guru mulai nyaman.
Kami berkata dalam hati, “Alhamdulillah, sebentar lagi semuanya stabil…”
Lalu… semuanya hancur dalam hitungan menit.
Tepat tanggal 30 Agustus 2023 satu bulan setelah tahun ajaran baru dimulai,
api melahap habis lantai dua asrama ikhwan, tempat yang baru selesai direnovasi dengan penuh cinta.
Dibawahnya adalah dapur. Biasanya saat menjelang Dzuhur, tim dapur sudah standby. Tapi hari itu berbeda.
Hari itu hari Kamis.
Hari itu anak-anak dan guru sedang shaum sunnah.
Tidak ada seorang pun di dapur.
Tidak ada seorang pun di kamar.
Dan saat adzan Dzuhur berkumandang, api mulai menyala.
Allah Maha Penjaga.
Tak ada satu pun nyawa yang menjadi korban.
Santri dan guru sedang di masjid.
Dan di saat kami menyadari, api sudah membesar, menjalar cepat dari gudang yang penuh dengan peralatan seperti sound system, lighting, perkabelan, dll.
dari plafon ke perabotan, menyambar seluruh isi asrama.
Tiga mobil pemadam kebakaran dikerahkan.
Kami semua panik. Tapi yang membuat kami tercengang:
santri kami tidak diam.
Mereka berlari membawa ember, baskom, apapun yang bisa menampung air.
Mereka berlarian ke rumah-rumah warga, minta bantuan,
berteriak, “Air! Air!”
Mereka tidak takut. Mereka tidak egois. Mereka jadi pejuang.
Mereka tahu ini rumah mereka.
Dan rumah ini sedang butuh mereka.
Setelah semua padam, saya dan suami hanya bisa menatap langit yang tetap cerah, seolah berkata:
“Kuatlah. Ini bukan akhir. Ini awal yang baru.”
Ketika Semua Jadi Abu
Setelah api padam, semuanya sepi.
Warga sekitar yang membantu mulai pulang.
Dan hanya tinggal kami para guru, para santri yang terdampak langsung.
Kami duduk di puing-puing.
Barang-barang habis tak bersisa.
Seragam baru yang baru dibagikan sehari sebelum kejadian: hangus.
Lemari, kasur, kitab, mushaf, pakaian harian anak-anak, bahkan mukena, sajadah, dan alat ibadah pun: tidak ada yang tersisa.
Sebagian santri menunduk, menahan tangis.
Sebagian lagi menepuk-nepuk bahu temannya, mencoba menghibur.
Ada yang berdiri sendiri di pojok, menatap bara yang masih mengepul dari kayu sisa ranjang mereka.
Saya sendiri nyaris tak kuat. Tapi saat saya menatap wajah mereka satu per satu anak-anak yang tak menyerah, guru-guru yang tetap bertahan, saya tahu:
saya tidak boleh tumbang.
Saling Menguatkan
Yang terjadi setelah itu bukan hanya sekadar recovery.
Tapi momen pembuktian: bahwa kami bukan sekadar lembaga pendidikan, kami adalah keluarga.
Guru-guru kami tak berhenti menyeka air mata santri.
Para santri saling bantu mengangkat sisa puing.
Mereka puasa, kelelahan, kehilangan tapi tetap kompak bersama.
Kami putuskan:
tidak akan tutup.
tidak akan menyerah.
dan tidak akan menyalahkan siapapun.
Esoknya, orangtua datang.
Mereka menangis. Mereka memeluk kami. Mereka ikut membantu.
Ada yang mengirim bantuan alat tidur, baju ganti, hingga donasi.
Itulah titik di mana kami tahu: perjuangan ini tidak sia-sia.
Hikmah dari Langit
Dari kejadian ini kami sadar, Allah ingin menaikkan derajat kami.
Kami diberi ujian yang sangat berat,
Tapi di saat yang sama, Allah menjaga nyawa kami semua.
Tidak ada luka. Tidak ada korban. Hanya harta dan in syaa Allah harta bisa dicari kembali.
Bahkan dalam musibah, kami melihat wajah-wajah para pejuang.
Kami melihat santri dan guru yang tulus dan loyal.
Kami tahu siapa yang tetap bertahan,
dan siapa yang memilih menjauh.
Tapi tidak apa.
Kami hanya ingin fokus pada mereka yang tetap berdiri bersama.
Yang tak kabur saat langit runtuh.
Yang memilih bertahan dan membangun ulang.
Cahaya dari Abu
Kini, kami bangkit.
Dengan semangat yang sama, tapi hati yang lebih kuat.
Kami tahu:
ini bukan tentang sekolah kami saja.
Ini tentang gerakan. Ini tentang peradaban.
Dan peradaban yang besar tidak lahir tanpa ujian besar.
Kami belajar,
bahwa dari abu pun, cahaya bisa lahir.
Dan kami percaya,
jika ini adalah ujian dari Allah, maka kebangkitan kami adalah janji-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar