Dua hari yang sangat berkesan. Bukan sekadar jalan-jalan, tapi perjalanan ini menjadi mozaik kenangan yang membentuk semangat baru untuk terus melangkah bersama dalam barisan kebaikan. Rihlah kali ini membawa kami ke Bandung, tapi sejatinya, kami sedang menyelami makna kebersamaan, pembelajaran, dan penghargaan atas setiap peran.
Hari Pertama: Belajar & Berkoneksi di Masjid Affiliate
Tujuan pertama kami adalah Masjid Affiliate, sebuah tempat yang tampak sederhana dari luar, tapi menyimpan magnet luar biasa. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat ilmu yang menarik banyak orang dari berbagai penjuru negeri untuk belajar tentang digital marketing dan affiliate. Dan hari itu, giliran tim IAN yang berkesempatan untuk menyerap semangat baru dari sana.
Ternyata, kami datang dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang masih pemula, yang selama ini hanya menggunakan media sosial untuk scroll-scroll saja. Ada juga yang followernya sudah ribuan, tapi masih bingung bagaimana cara memaksimalkan potensi platform yang ia miliki.
Alhamdulillah… sesi belajar digital affiliate membuka wawasan dan menghidupkan lagi bara semangat di dalam dada. Semoga ini menjadi langkah awal untuk memanfaatkan media sosial secara positif, produktif, dan penuh berkah.
Malamnya, kami duduk melingkar. Sharing santai, diskusi mendalam, refleksi penuh makna bersama para praktisi digital. Sesi yang menyentuh hati dan membuka pikiran. Banyak insight, banyak refleksi.
Mata boleh mengantuk, tapi hati kami terjaga. Semangat itu menyala kembali, lebih besar, lebih terarah.
Hari Kedua: Refleksi, Games, dan Kejutan yang Menghangatkan
Pagi hari kedua dimulai dengan sesi refleksi. Satu per satu, kami diminta menceritakan apa yang kami pelajari kemarin dan bagaimana gambaran ke depan atas ilmu yang baru saja kami peroleh. Ternyata, mendengar cerita teman-teman itu seperti membuka jendela ke dalam hati masing-masing. Ada yang bercerita dengan mata berkaca, ada yang tertawa kecil karena merasa relate, ada juga yang diam sejenak sebelum mengutarakan isi hatinya.
Lalu, sesi paling seru pun dimulai: games dan tukeran kado!
Ada permainan tentang mengenal lebih dalam siapa kita di mata tim kita sendiri. Kami menuliskan tanggapan untuk setiap orang di tim: apa yang kami lihat, rasakan, dan pikirkan tentang mereka. Saat membaca satu per satu komentar itu... ada yang senyum-senyum sendiri, ada yang mikir, “bener ga ya?”, dan ada juga yang tertawa geli sambil berkata, “ini siapa yang nulis?”.
Dan tibalah momen tukeran kado! Ada yang bungkus kadonya niat banget, sampai berlapis-lapis, mungkin saking sayangnya, atau mungkin memang banyak stok kertas di rumah, hehe. Tapi yang jelas, semuanya seru dan menyenangkan.
Perjalanan Lanjut: Pangalengan dan Jejak Digital di Alam
Setelah beres-beres dan packing, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pangalengan. Hujan mulai turun, menambah suasana jadi dingin dan syahdu. Jalanan yang berkelok-kelok dan naik turun membuat jantung sempat deg-degan. Tapi seperti hidup, untuk menuju puncak memang butuh perjuangan.
Sampai di Wayang Windu, sayangnya hujan deras mengguyur tanpa jeda. Karena lokasi wisata ini lebih ke spot foto outdoor, akhirnya kami batalkan niat ke sana. Untungnya, petugas tiket memberi info lebih awal, jadi kami bisa berpikir ulang.
Akhirnya kami putuskan untuk mencari kehangatan, bukan hanya dari suasana tapi juga dari air… Yup, berendam air hangat di Carita Alam jadi pilihan tepat!
Hamparan kebun teh yang menghijau dan kabut tipis yang turun pelan, membuat kami tak tahan untuk berhenti dan mengabadikan momen. Jejak digital pun ditinggalkan dengan senyum dan gaya terbaik, meski gerimis terus menemani.
Kami berfoto, tertawa, mengabadikan momen yang mungkin tak akan terulang. Pemandangan yang begitu syahdu… seolah jadi hadiah dari langit.
Kami juga menyempatkan mampir ke Masjid Al Mumtadz, tempat peristirahatan terakhir A Eril, putra dari Bapak Ridwan Kamil dan Ibu Atalia. Sebuah kunjungan yang membawa kami pada perenungan. Tentang hidup. Tentang kehilangan. Tentang makna warisan kebaikan yang bisa terus mengalir meski raga tak lagi ada.
Pulang dengan Hati Penuh Syukur
Siang menjelang sore, kami berendam air hangat di Carita Alam. Meski ramai, tapi tetap terasa nyaman. Hangatnya air seperti menutup perjalanan ini dengan pelukan.
Usai itu, kami beres-beres dan bersiap pulang kembali ke Bogor.
Alhamdulillah…
Perjalanan ini bukan hanya tentang tempat yang kami tuju, tapi tentang orang-orang yang membersamai. Tentang guru-guru yang sudah loyal di IAN dan akan melanjutkan perjuangan di tempat lain.
Semoga momen ini menjadi kenangan terakhir yang indah, sebagai bentuk apresiasi dan perpisahan penuh cinta. Kita pernah berjuang bersama. Kita pernah mencintai lembaga ini dengan ikhlas. Meski lelah, semoga tetap lillah.
Semoga kelak, di waktu yang tak terduga, kita bisa berjumpa kembali, dan berkata, “Aku pernah berjuang bersamamu.”
Terima kasih, tim IAN yang luar biasa.
Terima kasih sudah membersamai para santri, membimbing, menemani, dan mencurahkan waktu terbaik kalian.
Semoga Allah selalu membalas dengan kebaikan yang tak terhingga.
Sampai jumpa di perjalanan inspiratif lainnya, insyaAllah.
Salam Inspiratif,
@rinanisaa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar