Perjalanan kehidupan yang selalu saya syukuri dengan penuh keikhlasan, yang
menjadikan berbagai cobaan sebagai rintangan yang tak seberapa, serta yang
menjadikan nikmat-NYA sebagai suatu nilai plus untuk apa yang sudah saya lakukan selama ini di dunia. Mungkin
tak seberapa berat cobaan saya dibanding
dengan orang-orang yang di sana, orang-orang yang tak punya tempat tinggal,
orang-orang yang tak punya orangtua dan orang-orang yang serba kekurangan.
Walaupun hidup saya serba
pas-pasan. Tapi inilah hidup
yang harus selalu saya syukuri,
Alhamdulillah :')
Saya
terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, jauh dari saudara, jauh dari
kakek dan nenek, serta jauh dari kampung tempat saya
terlahir, yaitu Nganjuk (salah satu kota di Jawa Timur). Saya anak pertama dari 3 bersaudara, yang
mempunyai visi dan misi yang cukup sederhana, yaitu khairunnas anfa’ahum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang
bermanfaat untuk manusia yang lain).
Walaupun
saya jauh dari saudara-saudara, tetapi saya masih
mempunyai keluarga inti,
sahabat, guru, kaka kelas, murrobiah, dll yang selalu memberikan suport di kala saya sedang tak semangat. Mengingatkan saya
di kala iman saya sedang futur. Memberikan
banyak pelajaran dan hikmah yang membuat saya
berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Saya sangat bersyukur berada diantara
mereka, berada di lingkungan yang baik yang penuh dengan ukhuwah islami. Tak
ada kesulitan untuk menuju jalan yang di ridhoi-NYA.
Setelah Saya di
terima di sebuah SMA Negeri, tepatnya di SMAN 4 DEPOK yang berada di perum.
Sukatani Permai. Saya
memulai sebuah target yang berbeda dari SMP, yaitu saya ingin aktif di ekskul dan mengikuti organisasi, serta bisa mencapai prestasi akademik serta
non akademik. untuk mencapai sebuah target itu, saya mulai
aktif di berbagai organisasi dan ekskul di SMA. Yang paling
berkesan ketika saya diamanahkan menjadi Ketua Keputrian di ROHIS SMAN 4 Depok.
Padahal saat itu saya benar-benar baru mengenal yang namanya organisasi dan
untuk memimpin diri sendiri saja masih belum bisa, bagaimana memimpin orang
lain dan dapat memberikan teladan untuk orang banyak. bahkan untuk berbicara di
depan kelas saja saat itu saya masih suka demam panggung, apalagi berbicara di
depan forum akhwat yang lumayan banyak anggotanya kala itu. Tapi bismillah,
tidak ada yang tidak mungkin. Dengan azam yang kuat. Akhirnya saya pun berusaha
melatih diri saya untuk berubah dan berlatih terus-menerus untuk berbicara di
depan umum. Sampai suatu ketika saya diamanahkan untuk memberikan sambutan
mewakili SMA saya di depan sekolah-sekolah lain, saat jaulah (kunjungan) ke
sekolah lain.
Seiring
berjalannya waktu, ternyata ROHIS banyak
membawa perubahan pada diri saya
pribadi. di sinilah perubahan-perubahan yang baik terjadi di diri saya. Mendapatkan banyak
pelajaran, pengalaman ber-organisasi, serta dilatih menjadi seorang pemimpin
yang amanah dan teladan. Terutama membawa saya lebih
mengenal Allah dan
Rasulnya J hidup saya seperti banyak warna dan selalu bersemangat.
Tetapi kehidupan
pun mulai berubah. Banyak rintangan dan nikmat ujian yang Allah berikan. Hal
ini terjadi ketika Ayah saya diberikan ujian sakit yang lumayan serius dan
membutuhkan banyak biaya. Padahal saat itu sumber pendapatan keluarga yaitu
dari ayah saja. Tetapi, ayah saya yang bekerja sebagai karyawan swasta di salah
satu perusahaan Indonesia, harus mengalami PHK secara sepihak, karena ayah saya
harus full istirahat. Disinilah kondisi keluarga saya mulai berubah, terutama
pada ekonomi keluarga yang semakin menurun. Pada saat itu, saya sempat
mengalami down yang lumayan parah. Karena pada kondisi itu, selain ekonomi
keluarga yang semakin memburuk, juga saya mengalami kebingungan terhadap masa
depan saya.
Walaupun saya
dalam keadaan down, tetapi saya selalu yakin dan percaya, bahwa Allah
memberikan ujian kepada kita sesuai dengan kemampuan kita dan pasti ada rencana
Allah yang terbaik untuk kita. Mungkin yang kita inginkan belum tentu yang
terbaik untuk kita. Allah lebih tau dari pada kita sendiri. Saat itu, saya berusaha
merenungi di dalam alam bawah sadar saya semua hal yang positif.
Ada ibrah di
setiap ujian dan rintangan. justru disaat ujian itu datang, disitulah saya
merasakan ukhuwah indahnya saling menguatkan dengan keluarga inti saya. Ibu
saya lebih terbuka dan sering mengajak saya untuk berdikusi, saya juga bisa lebih
dekat dengan adik-adik saya. Saat itu saya baru sadar, seharusnya perkembangan
adik-adik saya harus saya perhatikan dan ini menjadi kewajiban saya sebagai
anak pertama.
Selain itu, sudah
menjadi tanggung jawab saya untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga saya.
Bagaimana kondisi ini tidak boleh lagi terjadi kepada keluarga saya. Ketika itu
yang saya fikirkan bukan mencari pekerjaan tetapi bagaimana saya harus membuka
lapangan pekerjaan. Ya! saya harus menjadi seorang pengusaha! Walapun saya
sempat ragu, karena saya pernah mengalami trauma yang dahsyat terhadap dunia
usaha. Bangkrut dan ditipu oleh orang lain pernah saya alami, sehingga ketika
terjun lagi ke dunia usaha, saya harus menguatkan tekad saya terlebih dahulu.
Akhirnya ketika
saya magang di suatu perusahaan terkenal di Mega Kuningan Jakarta, saya bertemu
dengan Ust. Valentino Dinsi yang pada saat itu membumingkan bukunya yang
berjudul “SATU PENGUSAHA SATU KELUARGA” Masyaa Allah! Ini buku yang saya
butuhkan saat itu. Setelah saya membaca buku tersebut dan saya juga sempat
sharing dengan beliau. Akhirnya saya menemukan titik dimana Allah sedang
mengarahkan HambaNya ke Jalan yang TERBAIK menurutNya.
Setelah itu, saya
pun diskusi dengan Orangtua saya. Sempat tidak di izinkan untuk menjadi seorang
pengusaha, karena menurut beliau dunia usaha itu keras butuh mental yang kuat
dll.. memang di keluarga saya belum ada
yang menjadi seorang pengusaha. Dan mungkin inilah Allah memberikan kesempatan
kepada saya untuk menjadi pelopor pengusaha di keluarga saya khususnya.
Dengan kekuatan
tekad saya, akhirnya saya terus melangkah action,
dan ingin membuktikan kepada keluarga saya, bahwa I CAN DO IT!
Akhirnya saya memutuskan untuk mencari ilmu bisnis yang sesungguhnya sebelum
benar-benar terjun ke dunia bisnis. Ya, saya harus mencari tempat kuliah bisnis
kalau bisa mendapatkan beasiswa dan berbasis syariah.
Keinginan saya ini pun menjadi hujatan
banyak orang. Ada yang bilang “orang ayahnya lagi sakit bukan kerja aja malah
sok-sokan kuliah, duit dari mana.. dan bla bla bla” wah banyak deh
perkataan-perkataan orang disana tentang saya. Tetapi Saya pun tidak terlalu
memikirkan mereka, saya terus melangkah dan bersyukur karena dari hujatan itu
tandanya banyak yang peduli dengan saya dan saya semakin bersemangat dengan hal
itu.
Ada seorang penguat di balik orang
yang tegar dan kuat. Ya.. keluarga sayalah yang menguatkan saya untuk
berkuliah. Entah uang dari mana. ketika mempunyai azzam untuk menuntut ilmu,
Insyaa Allah, Allah akan mempermudahnya. Allah kan Maha Kaya, kita hanya perlu berikhtiar
dan berdoa.
Dreams, Pray And
Action!
Salam Inspiratif,
@rinanisaa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar