Anaknya mau sekolah, Ortunya ikut di test
Loh... Kok anak yang mau sekolah, ortunya juga ikut di test.? Pasti hal ini seringkali jadi pertanyaan bagi para ayah dan bunda semuanya yang ingin daftarkan anandanya ke LPST IAN.
Pada awalnya, memang terkesan sangat sulit dan kok ribet sekali ya untuk bisa masuk di LPST IAN ? Tapi tenang saja dibalik kesulitan pasti tentu nya akan ada banyak kemudahan kan?? Bukannya begitu?? Kalau mau tahu jawabannya sudah tertera di dalam Al-Qur'an. Jadi buat apa ragu dengan janji Allah. 😊
Semua sistem dan prosedur ini dibuat untuk mampu membuat sang ayah dan bunda untuk sungguh-sungguh dalam mewujudkan ananda untuk bisa menjadi calon pengusaha penghafal Al-Quran yang memiliki adab yang mulia.
Tentu saja untuk mewujudkannya perlu komitmen dan keistiqomahan dong dari kita sebagai orangtua nya. Karena ga akan mungkin dong kalau kita mau punya anak yang sukses dunia akhirat tapi ortunya ga mau berjuang bersama. Iya kan ???
Nah... Ini ada cerita nih dari wali santri :
Anak pertama saya insyaAllah bulan Juli 2018 nanti usianya menginjak 6 tahun, dari awal tahun kemarin saya dan istri sudah mencoba mencari sekolah yang sesuai, pilihan kami berdua harapannya bisa diterima LPST IAN. Yang pusatnya terletak di cipayung, kota Depok, Jawa Barat.
mengenai slogan LPST IAN yang diusung yaitu sekolah pengusaha penghafal Al-Quran. Yang menarik dari LPST IAN ini adalah untuk test masuk anak, ternyata isu yang beredar benar, bahwa bukan hanya anaknya yang ditest, namun orang tuanya juga sama, saya dan istri mengalami 3 tahapan test, pertama test tertulis, kedua test membaca Al-Quran dan hafalan, ketiga interview. Sedangkan untuk anaknyapun sama yaitu tes tulis, membaca Al-Quran, tes psikologis dan home visit juga.
Memang ketika awal pertama kali tahu kalau ada test ortunya juga. Pasti dong agak dagdigdug. Tapi ternyata pada saat dijalani malah enjoy banget. Dan saya jadi banyak wawasan baru dan mengerti tujuan utama sebuah pendidikan untuk anak saya.
Wajarlah ada test nya, karena sekolahnya yang sangat berbeda tentu perlu ada sepemahaman antara sekolah dan orang tua. Agar outputnya anak kita bisa lebih akselerasi dalam mencapai target mimpinya menjadi pengusaha penghafal Al-Quran.
Ayah dan bunda pasti mau dong anaknya jadi pengusaha penghafal Al-Quran, terus ditambah memiliki adab yang mulia. Pasti hal ini akan menjadi investasi berharga banget buat ayah dan bunda baik selama di dunia dan di akhirat.
Pesan saya, ayo kita mulai ubah mindset dan paradigma kita tentang dunia pendidikan selama ini yang membuat kita seringkali bingung mau jadi apa ? Sedangkan era saat ini sudah waktunya muslim berdaya secara ekonomi dan juga mulia karena menjadi ahlul Qur'an.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar