Minggu, 10 Mei 2026

Jejak Pertama di Negeri Sakura


28 September 2025
Hari yang dulu hanya menjadi tulisan di buku mimpi… akhirnya benar-benar dimulai.

Jam 19.00 WIB kami tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Rasanya campur aduk. Antara lelah, deg-degan, excited, dan masih setengah nggak percaya kalau sebentar lagi akan terbang menuju Jepang.

Sore itu MasyaAllah… benar-benar memacu adrenalin. 😭
Semuanya terasa buru-buru dan penuh drama kecil yang ternyata justru jadi cerita indah.

Awalnya kami berencana menggunakan transportasi umum, bus Damri, supaya lebih hemat dan praktis. Tapi Qadarullah… ternyata jadwal bus hanya satu jam sekali. Kami sampai di CCM sekitar pukul 17.05 dan bus sebelumnya baru saja berangkat.

Saat itu sempat panik.
Karena waktu menuju bandara semakin mepet.

Dan kalau dipikir-pikir sekarang… mungkin itu memang cara Allah menyelamatkan perjalanan kami.

Nggak kebayang kalau benar-benar naik bus dari Bogor jam segitu, mungkin kami akan jauh lebih lama sampai Terminal 3. Belum lagi kondisi jalanan sore hari yang cukup padat.

Akhirnya kami memutuskan menggunakan mobil online. Memang biayanya lebih mahal, tapi Alhamdulillah… keputusan itu membuat kami tiba tepat waktu untuk proses check-in internasional.

Dan ternyata benar…
Penerbangan internasional prosesnya jauh lebih panjang dibanding domestik. Mulai dari check bagasi, pemeriksaan kabin, dokumen perjalanan, hingga antrean yang cukup menguras waktu.

Tapi justru di situ rasanya mulai muncul perasaan:
“Ya Allah… ini benar-benar mau ke Jepang.” 🥹🇯🇵

Kami menggunakan ANA Airlines NH 856 rute Jakarta – Tokyo International Airport.

Sebelum boarding, Alhamdulillah kami sempat beristirahat di Sapphire Lounge bersama teman-teman seperjalanan. Kami dinner, sholat, lalu duduk santai sambil ngobrol hangat tentang perjalanan, bisnis, dan mimpi-mimpi besar ke depan.

Dan jujur… di lounge itu aku seperti mendapatkan pelajaran baru tentang kehidupan.

Aku memperhatikan orang-orang di sekitar.
Ada yang membuka laptop sambil makan.
Ada yang meeting online.
Ada yang mengetik cepat sambil sesekali menyeruput kopi.

Seolah-olah waktu mereka terlalu berharga untuk hanya dipakai menunggu keberangkatan.

Di situ aku mulai memahami sesuatu…

“Oh… jadi ini alasan mereka memilih lounge.”

Bukan hanya untuk istirahat.
Tapi juga agar tetap produktif di sela perjalanan.

Aku jadi sadar, kenapa banyak orang sukses terlihat selalu selangkah lebih maju. Karena mereka benar-benar menghargai waktu.

Tidak banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Time is money.
Dan malam itu, aku belajar langsung dari suasana kecil di bandara internasional. ✨

Tak lama kemudian, perjalanan menuju Jepang pun dimulai.

Selama di dalam pesawat, pelayanan ANA Airlines benar-benar berkesan. Everything feels so well organized and professional.

Kami beberapa kali mendapatkan snack time. Ada roti, KitKat, snack stick yang rasanya familiar seperti di Indonesia, serta minuman dingin yang dibagikan dengan sangat rapi. Bahkan jam pembagiannya pun terasa teratur sekali.

Lalu sekitar pukul 03.00 dini hari kami dibangunkan untuk breakfast… atau mungkin lebih cocok disebut sahur ya? 😄

Karena pesawat akan landing pagi hari, jadi penumpang diminta makan terlebih dahulu.

Pramugari menawarkan dua pilihan menu:
Fish or chicken?

Aku memilih fish.

Dan ternyata rasanya cukup cocok di lidah Indonesia. Ada kentang rebus dengan saus creamy asam tomat khas Jepang. Awalnya aku kira rasanya akan aneh, tapi surprisingly… lumayan enak juga.

Pengalaman kecil seperti itu justru jadi hal yang paling membekas.

Alhamdulillah… akhirnya kami tiba di Tokyo International Airport sekitar pukul 06.30 pagi waktu setempat.

Saat roda pesawat menyentuh daratan Jepang, rasanya hati ini langsung berkata:
“Ya Allah… aku benar-benar sampai.” 🤍

Negeri yang dulu hanya ada di angan, tulisan, dan doa… kini ada tepat di depan mata.

Setelah turun dari pesawat, kami melanjutkan proses imigrasi dan pengambilan koper bagasi. Antreannya panjang sekali dan cukup memakan waktu karena begitu banyak wisatawan yang datang dari berbagai negara. Bahkan cukup banyak juga wisatawan dari Indonesia.

Di situ aku semakin sadar…
Jepang memang punya daya tarik luar biasa di mata dunia.

Tapi ada satu hal yang paling membuat kami kagum sejak pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Sakura ini…

Walaupun ini bandara internasional, orang Jepang tetap sangat menjaga bahasa dan budaya mereka. Banyak petugas yang tetap menggunakan bahasa Jepang dalam percakapan sehari-hari, dan tidak semuanya fasih berbahasa Inggris.

Namun justru di situlah letak kekagumannya.

Mereka maju tanpa kehilangan identitas bangsanya.
Mereka modern tanpa meninggalkan budayanya.
Mereka berkembang tanpa malu menggunakan bahasa sendiri.

Dan itu menjadi kesan pertama kami tentang Jepang. 

Salam inspiratif, 

@rinanisaa

Berani Bermimpi Meski Tak Tahu Jalannya

Tak pernah menyangka…
sebuah tulisan sederhana yang kutulis belasan tahun lalu, saat hati dipenuhi kekecewaan, ternyata menjadi doa yang Allah aminkan satu per satu.

Dulu aku hanya menulis :
“Aku ingin pergi ke Jepang…”

Padahal saat itu rasanya mustahil.
Bahasanya tidak bisa, jalannya belum terlihat, bahkan aku sendiri sempat bertanya, “Memang mungkin?”

Tapi ternyata, jika Allah sudah berkehendak…
yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.
Kun fayakun. 🤍

Allah hadirkan jalan lewat orang-orang baik, circle yang luar biasa positif, lingkungan yang saling menguatkan, dan kesempatan-kesempatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Hari ini aku benar-benar akan menjejakkan kaki ke Jepang, bukan sekadar untuk berjalan-jalan, tapi untuk perjalanan bisnis dan mimpi yang perlahan Allah wujudkan.

Jujur… ada bagian yang berat.
Harus meninggalkan anak-anak selama 10 hari tentu bukan hal mudah bagi seorang ibu. Tapi aku percaya, ketika niatnya baik dan dijalani karena Allah, maka Allah pula yang akan menjaga, menguatkan, dan memudahkan semuanya.

Dan benar saja…
semuanya terasa dimudahkan.
Jalannya dibukakan.
Rezekinya dicukupkan.
Hatinya dikuatkan.

Kadang kita hanya perlu percaya…
bahwa doa yang hari ini terasa jauh, bisa jadi sedang Allah siapkan dengan cara terbaik-Nya. 

Salam inspiratif, 
@rinanisaa 

Kamis, 30 Oktober 2025

Hidup yang Penuh Berkah

Alhamdulillah, Allah masih memberi kita kesempatan menapaki Jumat yang penuh cahaya.
Hari yang di dalamnya tersimpan keberkahan, ampunan, dan doa-doa yang diijabah. 

Jumat bukan sekadar hari di akhir pekan.
Ia adalah pengingat, bahwa waktu terus berjalan dan setiap hembusan napas adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri.

Kita mungkin tak selalu sempurna,
kadang lelah, kadang hilang arah,
tapi hari ini, mari kita berhenti sejenak untuk bersyukur.
Bersyukur atas setiap langkah, setiap ujian, dan setiap senyum yang Allah titipkan.

Karena berkah hidup tidak selalu datang dari hal besar.
Kadang justru dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati:
🍃 doa yang dipanjatkan dengan tulus,
🍃 sedekah yang disembunyikan,
🍃 maaf yang diberikan tanpa syarat,
🍃 dan niat baik yang terus dijaga meski tak ada yang melihat.

Mari jadikan hari ini bukan hanya tentang mencari rezeki,
tapi juga tentang menjemput ridha dan keberkahan Ilahi.
Sapa orang dengan lembut, bantu seseorang tanpa pamrih,
dan isi harimu dengan amal yang tak terlihat oleh manusia, tapi dilihat oleh Allah.

Semoga Jumat ini membawa ketenangan di hati, lapang di langkah, dan berkah di setiap niat yang kita tanamkan, serta setiap langkah kita hari ini menjadi pahala yang terus mengalir. 
Aamiin ya Rabbal ‘alamin 🤲🏻

Semangat Pagi, Jumat Barokah!
@rinanisaa

Rabu, 29 Oktober 2025

Hidup yang Tak Sekadar Hidup

Kita sering kali sibuk mengejar banyak hal: pengakuan, pencapaian, bahkan kesempurnaan.
Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada pertanyaan yang kadang kita lupa renungkan:
Apakah hidupku sudah benar-benar bermanfaat?

Hidup yang bermakna bukan soal seberapa tinggi jabatan, seberapa besar usaha, atau seberapa banyak harta.
Tapi seberapa banyak hati yang kita sentuh, seberapa sering kita menebar kebaikan, dan seberapa tulus kita berkarya tanpa pamrih.

Karya tidak selalu harus besar. Kadang, satu ide kecil yang dilakukan dengan cinta bisa mengubah banyak hal.
Senyum yang kita berikan, bantuan kecil yang kita ulurkan, atau keberanian kita untuk terus mencoba, semuanya bagian dari warisan kebaikan yang akan tinggal lebih lama dari usia kita sendiri.

Jangan tunggu waktu sempurna untuk mulai berkarya.
Mulailah dari apa yang ada di tangan, dengan niat yang benar, dan langkah yang konsisten.
Karena hidup bukan tentang menunggu momen hebat datang,
tapi menciptakan kehebatan dari momen yang sederhana.

Di akhir hari, yang kita cari bukan sekadar sukses, 
tapi tenang. Tenang karena tahu, kita telah hidup dengan makna.
Kita telah berbuat sesuatu. Kita telah menyalakan cahaya, sekecil apa pun,
di dunia yang kadang terasa gelap. 
@rinanisaa

Rabu, 13 Agustus 2025

Buat Orangtua & Calon Pengusaha Hebat

Pernah dengar orang bisa punya banyak bisnis tapi tetap santai? 🤔
Ternyata rahasianya bukan kerja 24 jam, tapi punya 5 SUPER SKILLS yang bikin uang dan peluang justru datang menghampiri.
Ilmu ini dibagikan langsung oleh Sang Guru, Bapak Heppy Trenggono di Teaser Silatnas IIBF 2025 dan disarikan oleh dr. Ahmad Husnul Huluq. 

💡 Pesan utama:
Kaya bukan berarti kerja tanpa henti, tapi menguasai keterampilan kunci yang membuat uang datang lewat cara kita mengelola aset, kesepakatan, modal, dan sistem. Ilmu yang menyentuh hati bukan hanya membuat kita paham, tapi mendorong kita bergerak.

🌏 Mindset Pengusaha Besar:

Lihat Indonesia sebagai pasar besar.

Anggap pemerintah sebagai penyedia layanan.

Berhenti mengeluh, jadilah pemain yang mencari peluang, menutup kesepakatan, dan membangun sistem.


🔑 5 Super Skills:
1. Mengelola Aset – tahu mana yang disimpan, dirapikan, atau dilepas.
2. Deal-Making – berani menawarkan struktur yang adil tapi cerdas.
3. Menguasai Modal – kreatif pakai pembiayaan, tidak harus modal sendiri.
4. Membangun Sistem – bisnis tetap jalan tanpa kita terjebak operasional.
5. Fokus – pilih sedikit aktivitas yang benar-benar memberi lonjakan hasil.

🎯 Fokus yang Mengubah Hidup:
Pilih 2–3 aktivitas utama yang kalau dikerjakan konsisten akan melipatgandakan hasil (contoh: negosiasi besar, rekrut & bina orang kunci). Sisihkan ±80% waktu untuk itu.

🚀 “Buy Business” – Jalan Cepat Tumbuh:
- Beli bisnis yang sudah berjalan.
- Cari yang penjualannya besar tapi rugi → perbaiki biaya & manajemen.
- Lebih mudah menekan biaya daripada menaikkan penjualan.

💼 Contoh Pola Akuisisi:
- 1/12 Strategy – DP kecil, sisanya dari arus kas bisnis.
- Seller’s Note – bayar bertahap ke penjual.
- Majority Control Snipping – kuasai mayoritas dengan modal kecil.

🔑 Kesimpulan:
Punya banyak bisnis = lebih tenang, karena ada banyak kartu untuk dimainkan, tahu harus fokus di mana, dan sistem berjalan dibantu tim.

Sabtu, 28 Juni 2025

Bersama Dalam Langkah, Bermakna Dalam Kenangan

Alhamdulillah…
Dua hari yang sangat berkesan. Bukan sekadar jalan-jalan, tapi perjalanan ini menjadi mozaik kenangan yang membentuk semangat baru untuk terus melangkah bersama dalam barisan kebaikan. Rihlah kali ini membawa kami ke Bandung, tapi sejatinya, kami sedang menyelami makna kebersamaan, pembelajaran, dan penghargaan atas setiap peran.

Hari Pertama: Belajar & Berkoneksi di Masjid Affiliate
Tujuan pertama kami adalah Masjid Affiliate, sebuah tempat yang tampak sederhana dari luar, tapi menyimpan magnet luar biasa. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat ilmu yang menarik banyak orang dari berbagai penjuru negeri untuk belajar tentang digital marketing dan affiliate. Dan hari itu, giliran tim IAN yang berkesempatan untuk menyerap semangat baru dari sana.

Ternyata, kami datang dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang masih pemula, yang selama ini hanya menggunakan media sosial untuk scroll-scroll saja. Ada juga yang followernya sudah ribuan, tapi masih bingung bagaimana cara memaksimalkan potensi platform yang ia miliki.
Alhamdulillah… sesi belajar digital affiliate membuka wawasan dan menghidupkan lagi bara semangat di dalam dada. Semoga ini menjadi langkah awal untuk memanfaatkan media sosial secara positif, produktif, dan penuh berkah.
Malamnya, kami duduk melingkar. Sharing santai, diskusi mendalam, refleksi penuh makna bersama para praktisi digital. Sesi yang menyentuh hati dan membuka pikiran. Banyak insight, banyak refleksi.
Mata boleh mengantuk, tapi hati kami terjaga. Semangat itu menyala kembali, lebih besar, lebih terarah.

Hari Kedua: Refleksi, Games, dan Kejutan yang Menghangatkan
Pagi hari kedua dimulai dengan sesi refleksi. Satu per satu, kami diminta menceritakan apa yang kami pelajari kemarin dan bagaimana gambaran ke depan atas ilmu yang baru saja kami peroleh. Ternyata, mendengar cerita teman-teman itu seperti membuka jendela ke dalam hati masing-masing. Ada yang bercerita dengan mata berkaca, ada yang tertawa kecil karena merasa relate, ada juga yang diam sejenak sebelum mengutarakan isi hatinya.

Lalu, sesi paling seru pun dimulai: games dan tukeran kado!
Ada permainan tentang mengenal lebih dalam siapa kita di mata tim kita sendiri. Kami menuliskan tanggapan untuk setiap orang di tim: apa yang kami lihat, rasakan, dan pikirkan tentang mereka. Saat membaca satu per satu komentar itu... ada yang senyum-senyum sendiri, ada yang mikir, “bener ga ya?”, dan ada juga yang tertawa geli sambil berkata, “ini siapa yang nulis?”.

Dan tibalah momen tukeran kado! Ada yang bungkus kadonya niat banget, sampai berlapis-lapis, mungkin saking sayangnya, atau mungkin memang banyak stok kertas di rumah, hehe. Tapi yang jelas, semuanya seru dan menyenangkan.

Perjalanan Lanjut: Pangalengan dan Jejak Digital di Alam
Setelah beres-beres dan packing, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pangalengan. Hujan mulai turun, menambah suasana jadi dingin dan syahdu. Jalanan yang berkelok-kelok dan naik turun membuat jantung sempat deg-degan. Tapi seperti hidup, untuk menuju puncak memang butuh perjuangan.

Sampai di Wayang Windu, sayangnya hujan deras mengguyur tanpa jeda. Karena lokasi wisata ini lebih ke spot foto outdoor, akhirnya kami batalkan niat ke sana. Untungnya, petugas tiket memberi info lebih awal, jadi kami bisa berpikir ulang.
Akhirnya kami putuskan untuk mencari kehangatan, bukan hanya dari suasana tapi juga dari air… Yup, berendam air hangat di Carita Alam jadi pilihan tepat!
Namun sebelum itu, kami sempat menepi sejenak…
Hamparan kebun teh yang menghijau dan kabut tipis yang turun pelan, membuat kami tak tahan untuk berhenti dan mengabadikan momen. Jejak digital pun ditinggalkan dengan senyum dan gaya terbaik, meski gerimis terus menemani.

Kami berfoto, tertawa, mengabadikan momen yang mungkin tak akan terulang. Pemandangan yang begitu syahdu… seolah jadi hadiah dari langit.

Kami juga menyempatkan mampir ke Masjid Al Mumtadz, tempat peristirahatan terakhir A Eril, putra dari Bapak Ridwan Kamil dan Ibu Atalia. Sebuah kunjungan yang membawa kami pada perenungan. Tentang hidup. Tentang kehilangan. Tentang makna warisan kebaikan yang bisa terus mengalir meski raga tak lagi ada.

Pulang dengan Hati Penuh Syukur
Siang menjelang sore, kami berendam air hangat di Carita Alam. Meski ramai, tapi tetap terasa nyaman. Hangatnya air seperti menutup perjalanan ini dengan pelukan.
Usai itu, kami beres-beres dan bersiap pulang kembali ke Bogor.

Alhamdulillah…
Perjalanan ini bukan hanya tentang tempat yang kami tuju, tapi tentang orang-orang yang membersamai. Tentang guru-guru yang sudah loyal di IAN dan akan melanjutkan perjuangan di tempat lain.
Semoga momen ini menjadi kenangan terakhir yang indah, sebagai bentuk apresiasi dan perpisahan penuh cinta. Kita pernah berjuang bersama. Kita pernah mencintai lembaga ini dengan ikhlas. Meski lelah, semoga tetap lillah.
Semoga kelak, di waktu yang tak terduga, kita bisa berjumpa kembali, dan berkata, “Aku pernah berjuang bersamamu.”

Terima kasih, tim IAN yang luar biasa.
Terima kasih sudah membersamai para santri, membimbing, menemani, dan mencurahkan waktu terbaik kalian.
Semoga Allah selalu membalas dengan kebaikan yang tak terhingga.
Sampai jumpa di perjalanan inspiratif lainnya, insyaAllah.

Salam Inspiratif,
@rinanisaa

Senin, 16 Juni 2025

Ketika Cinta dan Karya Menemukan Rumahnya

Hari itu, langit terlihat biasa saja. Tapi di halaman sederhana kami, ada yang luar biasa. Satu per satu para santri melangkah mantap, membawa karya-karya mereka yang telah ditulis, dirancang, dan disiapkan selama berbulan-bulan. Mereka bukan sekadar peserta didik, tapi juga penulis, perancang, pembicara, pemimpi yang hari itu tampil dengan keberanian dan cahaya dari dalam jiwa.

IAN CREATION DAY 2025 adalah puncak perjalanan satu tahun penuh perjuangan. Tapi sesungguhnya, ini lebih dari sekadar penutupan tahun ajaran. Ini adalah bukti bahwa pendidikan yang dilakukan dengan cinta, sabar, dan iman, akan menemukan hasilnya: anak-anak yang tidak hanya hafal ayat, tapi juga mampu menerjemahkannya dalam aksi nyata.
Di sesi awal, para santri menyampaikan karya terbaik mereka, buku, video, bisnis, dan proyek sosial yang mereka rancang sendiri. Saya melihat mata orangtua berkaca-kaca saat anak-anak mereka menyebutkan nama "Ayah dan Bunda" sebagai sumber inspirasi. Saya melihat guru-guru menahan haru saat santri mereka menuturkan kisah jatuh bangun selama proses menulis, mendesain, membangun mimpi.

"Saya pernah merasa tidak bisa," ujar seorang santri perempuan, "tapi ustadzah saya bilang: menulislah walau gemetar. Berkaryalah walau belum sempurna. Karena setiap proses adalah bagian dari keberanian."

Kalimat itu menggema dalam hati kami semua.
Lalu datanglah momen paling haru: saat setiap santri menyerahkan hasil karyanya kepada orangtuanya. Tidak sedikit peluk haru yang terjadi. Di antara santri dan ayah yang jarang bertemu karena bekerja jauh. Di antara anak dan ibu yang selama ini selalu khawatir, apakah anaknya bisa berkembang. Hari itu menjadi jawaban: Anak itu tumbuh. Dengan caranya. Dengan imannya. Dan dengan cinta yang didapat dari rumah dan dari sekolah.

IAN Business School bukan sekolah biasa. Ia adalah rumah yang membangun peradaban. Di dalamnya bukan hanya diajarkan tentang bisnis, tapi juga adab. Bukan hanya tentang hafalan, tapi tentang bagaimana hafalan itu menjadi sumber nilai dalam mengambil keputusan hidup.

IAN CREATION DAY menjadi bukti nyata dari filosofi kami:
"Menghafal dengan Cinta, Berkarya dengan Makna."
Karena di era AI dan digitalisasi, anak-anak kita tidak hanya harus cerdas, tetapi juga berkarakter. Tidak cukup sekadar kreatif, tapi juga bertanggung jawab. Dan itu hanya bisa dibentuk jika cinta menjadi bahan bakar utama proses pendidikan.
Terima kasih kepada setiap guru yang terus sabar menanam nilai. Terima kasih kepada setiap orangtua yang tak lelah mendukung di balik layar. Dan terima kasih kepada para santri, yang sudah memilih untuk terus berjalan, meski kadang sulit dan gelap.

Kita mungkin belum sempurna. Tapi hari itu, di panggung sederhana IAN CREATION DAY, kita telah menyaksikan sebuah harapan: bahwa generasi Qurani, kreatif, mandiri, dan tangguh bukan sekadar mimpi. Mereka ada, dan mereka tumbuh bersama kita.
Semoga langkah ini terus berlanjut. Semoga karya ini menjadi amal jariyah. Dan semoga pendidikan di negeri ini semakin banyak yang berani mendidik dengan cinta, bukan hanya dengan target.

Salam hangat penuh inspiratif, 
@rinanisaa