Kamis, 16 Mei 2019

AL FATIHAH : MEMASTIKAN DI JALAN YANG LURUS


Jumhur ulama menyatakan bahwa membaca surat Al Fatihah adalah rukun shalat. Tidak sah shalat tanpa membaca Al Fatihah.

Nabi Saw telah bersabda:

لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” Hadits Riwayat Bukhari nomer 756 dan Muslim nomer 394.

Beliau Saw juga bersabda:

كلُّ صلاةٍ لا يُقرَأُ فيها بأمِّ الكتابِ ، فَهيَ خِداجٌ ، فَهيَ خِداجٌ

“Setiap shalat yang di dalamnya tidak dibaca Fatihatul Kitab, maka ia cacat, maka ia cacat”. Hadits Riwayat Ibnu Majah nomer 693, disahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah.

Dinamakan Al Fatihah –yang bermakna pembukaan– karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Qur’an. Al Fatihah juga dinyatakan oleh Nabi Saw sebagai surat yang paling agung di dalam Al Qur’an, sebagaimana hadits dari Abu Sa’id Rafi’ Ibnul Mu’alla Ra.

Abu Sa’id Rafi ibnul Mu’alla mengatakan: Rasulullah Saw berkata kepadaku, “Maukah kamu aku ajari sebuah surat paling agung dalam Al Quran sebelum kamu keluar dari masjid nanti?” Maka beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku.

Tatkala kami sudah hampir keluar maka aku pun berkata; wahai Rasulullah, engkau tadi telah bersabda, “Aku akan mengajarimu sebuah surat paling agung dalam Al Quran?” Maka beliau bersabda, “(Surat itu adalah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin (surat Al Fatihah), itulah As Sab’ul Matsani serta Al Quran Al ‘Azhim yang dikaruniakan kepadaku.” Hadits Riwayat Bukhari.

Al Fatihah disebut pula sebagai Ummul Qur’an, atau induk Al Quran, karena ia merupakan induk dari semua isi Al Quran. Disebut pula sebagai As Sab’ul Matsani, yaitu tujuh yang berulang-ulang, karena jumlah ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang ketika shalat.

Disebut juga surat Al Kafiyatu Asy Syafiyah. Al Kafiyah maknanya adalah pencukup, dan Asy Syafiyah berarti penyembuh, karena di dalam surat Al Fatihah terdapat penyembuh yang mencukupi untuk berbagai macam penyakit hati maupun badan.

Sebagai Al Fatihah ---pembuka, seluruh kandungan maknanya apabila dipahami dan dilaksanakan dengan baik serta benar, akan membimbing manusia untuk membuka kebaikan-kebaikan dalam kehidupan yang telah dituntunkan Allah dan Rasul.

Di dalamnya terdapat prinsip Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah sebagai pondasi aqidah setiap muslim.

Dalam surat ini terdapat kandungan doa yang sangat fundamental,“ihdinash shirathal mustaqim” --- tunjukilah kami jalan yang lurus. Ini merupakan hajat mendasar dalam kehidupan manusia, agar selalu berada di jalan yang lurus. Bukan jalan oang-orang yang Allah murkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat.

Kita mengulang-ulang membaca Al Fatihah dalam setiap raka’at shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, baik shalat berjama’ah maupun shalat sendirian, agar memiliki orientasi hidup yang lurus. Terus menerus membaca dan menghayati Al Fatihah, agar kehidupan kita selalu dibukakan kebaikan oleh Allah, dan selalu berada di jalan yang lurus.

Maka ketika membaca Al Fatihah, hendaknya disertai kesadaran akan maknanya. Agar Allah benar-benar membuka pintu-pintu kebaikan dalam kehidupan. Agar Allah selalu menjaga kita, sehingga berada di jalan yang lurus.

Semoga spirit Al Fatihah membawa kita menuju kemenangan dunia akhirat. Mari perbanyak membaca Al Fatihah. Jangan lupa, perbanyak pula sedekah, mumpung ketemu bulan penuh berkah.

(Cahyadi Takariawan)

Tahapan Pendidikan Agama Anak dari usia Nol sampai Seumur Hidup


Oleh Kiki Barkiah

Masa 15 - seumur hidup

Setelah masa 14 tahun pertama anak belajar Islam untuk dapat memahami dan melaksanakan kewajiban diri sebagai seorang muslim, maka proses belajar selanjutnya adalah mempelajari segala ilmu yang dibutuhkan untuk memperhias ibadah wajib dengan ibadah sunnah serta berlatih untuk secara komitmen melaksanakannya agar menjadi hamba yang semakin dicintai oleh Allah. Proses pendalaman materi Islam juga diperluas untuk memahami dan mengamalkan bagaimana aplikasi Islam dalam setiap lini kehidupan, sehingga ia mampu menjalankan peran personal manusia dalam peradaban, yaitu:

1. Rahmatan lil alamin: Menebar rahmat bagi semesta (Peace and compassion)
"Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" Al-Anbiya QS. 21:107

2. Bashiro wa Nadziro (Solution Maker, Problem Solver, Reminder)
"Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka." Al-Baqoroh QS. 2:119

Mendalami ilmu agama pun terus dilakukan agar anak senantiasa Istiqomah untuk tetap berada dalam lingkungan sosial yang bersama-sama berjuang menjalankan peran komunal manusia dalam peradaban, yaitu:

1. Khoirul Ummah (Ummat yang terbaik)
“Kamu sekalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah?” (Q.S. Ali ‘Imrân: 110).
2. Ummatan Washatan (umat pertengahan) “Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu sekalian ummatan wasathan (umat yang moderat, umat yang adil, umat pilihan), agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu?” (Q.S. Al-Baqarah: 143).
Apa yang perlu kita lakukan?

Adapun tujuan yang hendak kita capai dalam proses ini adalah mengantarkan kita sekeluarga menuju kematian terbaik dan meraih kehidupan akhirat terbaik melalui jihad fisabilillah yang sesuai dengan peran yang diambil oleh masing-masing anggota keluarga dalam peradaban.

Apa yang kita lakukan di masa ini?
Apabila tahapan pendidikan agama 0-14 telah dilakukan dengan baik, maka selanjutnya hubungan yang dapat kita bangun bersama anak adalah sebagai partner dalam dakwah dan partner dalam jihad. Seumur hidup saling berlomba dalam kebajikan untuk .menambah pahala, bekerja bersama atau berharmonisasi dalam dakwah dan kontribusi jihad fisabilillah, serta tak henti-hentinya saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.

Referensi:
Buku “Pendidikan Berbasis Fitrah” Ustadz Harry Santosa
Ceramah Ustadz Budi Azhari, Lc
Buku Inpirasi Rumah Cahaya Ustadz Budi Azhari, Lc

Catatan:

Sebelum terlambat dan anak anak semakin jauh dari nilai-nilai agama, mari kita galakkan pendidikan Islam rutin sejak dini di rumah melalui buku buku untuk  usia dini, masa tahrib dan pre Akil baligh.

Tahapan Pendidikan Agama Anak dari usia Nol sampai Seumur Hidup

Oleh Kiki Barkiah

Masa tadrib 7-10 tahun

konsep agama yang ditekankan di usia 7-10 adalah membangkitkan kesadaran Allah sebagai Malik (waliyan dan hakiman)

Apa yang perlu kita lakukan?
1. Mulai mengajarkan shalat dan menjalankan shalat 5 waktu
2. Mulai mengajarkan dan melatih anak melakukan ibadah lainnya seperti puasa dll
3. Terus menyiram dan memupuk benih keimanan
4. Mulai mengenalkan nilai
5. Mulai mengenalkan perintah dan larangan
6. Anak laki laki didekatkan ke ayah, anak perempuan didekatkan ke ibu

Adapun tujuan yang hendak ingin dicapai dari proses ini adalah saat berusia 10 tahun anak-anak berkomitmen melakukan ibadah sebagai buah dari keimanan

Bagaimana metode yang digunakan?
1. Pendidikan melalui kurikulum sistematis
2. Pendidikan melalui nasihat
3. Pendidikan melalui keteladanan
4. Pendidikan melalui kisah teladan
5. Pendidikan melalui penggalian hikmah
6. Pendidikan melalui penjagaan kesucian fitrah
7. Pendidikan melalui pelatihan dan pembiasaan

Sedangkan penekanan konsep agama yang disampaikan di usia  7-10 baik melalui kisah nabi, Rasulullah saw, para sahabat, serta menyampaikan materi islam secara lebih terstruktur, diharapkan dapat membuat:
1. Anak mengenal konsep  Allah sebagai pembuat hukum atau aturan
2. Anak mengenal konsep Allah pemilik kekuasaan tertinggi dalam pemerintah
3. Anak mengenal konsep Allah sebagai satu-satunya zat yang di sembah
4. Anak mengenal konsep "Islam The Way of Life" yaitu mengenal bahwa islam begitu sempurna mengatur semua bidang kehidupan dari urusan kecil sampai urusan besar
5. Anak mengenal konsep hari akhir dan negeri akhirat
6. Anak mengenal konsep pertanggungjawaban amal perbuatan
7.  Anak mengenal malaikat
8.  Anak mengenal konsep bahwa syaitan adalah musuh nyata baginya
9. Anak mengenal konsep “Rasulullah sang Teladan”
10. Anak mengenal konsep bahwa mengaplikasikan islam berarti meneladani/itiba Rasulullah
11. Anak mulai secara konsisten belajar fiqh ibadah dan berlatih untuk mengamalkannya.

Sabtu, 11 Mei 2019

YOUTH PIONEER

Terkadang Melalui kegagalan Kita Bisa bersikap bijak Menuju Pada Sebuah Hal yang Disebut dengan Kebaikan. Karena Kebaikan adalah Sebuah Proses Panjang yang Tak Bisa Dinilai Atas Apa yang Kita Lihat Hari Ini. Sama seperti air, kebaikan pun mencari ruang gerak ke tempat yang lebih rendah konsentrasinya. Ke jiwa gersang yang butuh kesegarannya. Maka kita melihat bahwa kebaikan itu menular, dan menyemaikan benih taqwa ke sekitarnya.

Teringat beberapa bulan yang lalu, ketika @iso.indonesia tercetus di pikiran seorang pemuda pelopor Jawa Barat, bernama Darmawan Haryanto,S.H. dialah coach, partner dan suami saya yg menjadi teman sharing setiap waktu.

Ketika Allah memberikan ujian pada saat itu kita tidak berhenti, tapi terus berlari, berjuang dan berproses.
Menjadi sebuah pelajaran berharga buat kami ketika kegagalan menimpa. Pada akhirnya Allah memberikan sedikit pelangi untuk @iso.indonesia berprestasikeluarga dan bermanfaat. Dengan meraih penghargaan sebagai pemuda pelopor bidang lingkungan dan SDA dan pemenang lomba teknologi tepat guna tingkat kota. Masya Allah tabarakaAllah.. semoga @iso.indoensia semakin berkembang, maju, dan bermanfaat untuk masyarakat Indonesia ❤️

Tips tetap Istiqomah mengerjakan NHW tepat waktu


1. Atur waktu khusus dan timeline dengan detail setiap Minggunya dan harus komitmen dengan waktu tersebut. Misalnya tentukan  perenungan mengerjakan NHWnya brp lama, jangan terlalu banyak mikir, karena akan membuat kita pusing dan jadi malas mengerjakan😅 tulis dulu aja timeline. Misal 3 hari perenungan, 1 hari pengerjaan, dan langsung di kumpulin deh😊

2. Memahami dengan seksama setiap materi dan tugas NHW

3. Kalau belum faham, boleh japri Walas/fasilitator

4. Setelah Faham, share materi kepada suami supaya satu frekuensi di dalam 1 keluarga.

5. Ajak diskusi suami dan libatkan doi dalam pengerjaan NHW.

6. Jika kita sudah mengetahui misi hidup kita, bisa ajak diskusi suami dalam menentukan misi hidup keluarga. Supaya balance antara misi hidup diri sendiri, suami, dan keluarga.

Saya yakin semua Ibu-Ibu pembelajar juga pasti mempunyai misi yg keren-keren. Semoga Allah mengijabah mimpi2 kita ya😘🤝

Berjuanglah wahai ibu pembelajar yang akan siap mengubah peradaban, karena tak ada peradaban tanpa perjuangan.
Berjuanglah sesuai kemampuan dalam bidangmu. Dengan terus berusaha mengembangkan kualitas diri.. sejatinya kita sebagai wanita sedang berjuang untuk membangun bangsa ini.
Selamat berjuang wahai ibu pengubah perdaban🤝🏻🤝🏻💪🏻

Salam Inspiratif,

Rina K.N Darmawan,S.E