Jumat, 30 Mei 2025
Masjid Sederhana, Spirit Luar Biasa: Ketika Ilmu Digital Tumbuh di Rumah Allah
Gathering Alumni STEI SEBI: Bersatu dalam Ukhuwah, Berjejaring dalam Keberkahan
Senin, 19 Mei 2025
Menjadi Pemuda Inspiratif dan bermental Pengusaha: Panduan Praktis yang Menyalakan Mimpi dan Profit
Sabtu, 17 Mei 2025
Tips & Trik Menjadi Couplepreneur SaMaWa
Cinta untuk Karya, Karya untuk Peradaban
Jumat, 16 Mei 2025
Cahaya dari Perbatasan: Kisah Project Camp IAN di Negeri Jiran
Rabu, 14 Mei 2025
Dari Abu ke Arah Langit – Ketika Sekolah Menjadi Gerakan
Selasa, 13 Mei 2025
Dari Abu Menjadi Cahaya
Anak Negeri Menembus Dunia Melalui Digital
Minggu, 11 Mei 2025
Dari Lokal ke Global, Menyemai Jejak di Bumi, Menuju Langit
Sekolah Kehidupan, Panggung Pengusaha Muda
Jumat, 09 Mei 2025
Satu Juta Langkah Menuju Satu Juta Pengusaha Muda
Kamis, 08 Mei 2025
Jejak yang Meninggalkan Jejak
Rabu, 07 Mei 2025
Menenun Mimpi dalam Kurikulum
Selasa, 06 Mei 2025
Dari Garasi ke Galaksi Ide
Senin, 05 Mei 2025
Cinta yang Bertumbuh dalam Misi
Minggu, 04 Mei 2025
Takdir Bertemu di Persimpangan Mimpi
Seribu Pengusaha Penghafal Al Qur'an
Sabtu, 03 Mei 2025
Resume Buku: 75 Inspirasi Dewi Motik Pramono
Jumat, 02 Mei 2025
Mengapa Belajar Bisnis sejak dini?
Kamis, 01 Mei 2025
KETIKA KEPERCAYAAN DIKHIANATI
Terkadang, niat baik kita belum tentu diterima dengan baik oleh orang lain.
Saat seorang sahabat sedang kesulitan mencari pekerjaan, tentu sebagai sahabat, kita ingin membantunya. Kebetulan, usaha yang baru kita rintis juga membutuhkan tenaga tambahan untuk berkembang. Maka, tanpa ragu, kita memilih sahabat tersebut untuk bergabung sebagai bagian dari tim, khususnya di bidang marketing—sesuai dengan pengalamannya di perusahaan sebelumnya.
Padahal, ada banyak pelamar lain, tetapi kita percaya padanya. Kita berharap ia bisa menjadi salah satu support system dalam membangun bisnis ini bersama. Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata realitasnya jauh dari harapan.
Alih-alih menjadi bagian dari tim yang solid, ia justru membawa pengaruh buruk bagi lingkungan kerja. Fitnah mulai beredar—katanya perusahaan ini tidak sehat, manajemennya buruk, dan berbagai tuduhan lain yang tidak berdasar. Ia bahkan menjadi pemicu di balik keresahan karyawan lain, mendorong mereka untuk resign.
Tak hanya itu, dampaknya meluas hingga ke usaha lain yang telah lebih dulu berjalan, yakni di bidang pendidikan. Tiba-tiba, beberapa guru mengajukan resign secara mendadak tanpa alasan jelas. Setelah diselidiki, ternyata mereka juga terpengaruh oleh hasutan yang sama.
Sungguh mengecewakan. Alih-alih berterima kasih atas kesempatan yang diberikan, ia justru menjadi sumber masalah. Namun, dari kejadian ini, ada hikmah besar yang bisa dipetik.
Pada akhirnya, kebenaran akan selalu menang. Orang yang memiliki niat jahat akan menuai akibat dari perbuatannya sendiri. Ketika ada karyawan toxic yang mampu mempengaruhi orang lain, justru di situ kita bisa melihat siapa yang benar-benar loyal dan siapa yang mudah goyah.
Tanpa perlu kita seleksi, mereka akan terseleksi dengan sendirinya. Dan satu hal yang pasti, kita akan terus membuktikan bahwa semua fitnah yang telah diucapkan tidaklah benar.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
(QS. Al-Hujurat: 6)
Juga dalam firman-Nya yang lain:
"Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedang kamu mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 42)
Dari ujian ini, kita belajar untuk lebih berhati-hati dalam memberikan kepercayaan. Tidak semua orang mampu menghargai kebaikan. Namun, yakinlah bahwa Allah Maha Adil dan akan membalas setiap perbuatan sesuai dengan niat dan amalnya.
Salam Inspiratif!
@rinanisaa