Suatu ketika, Khalifah Harun Al Rasyid duduk di teras istana dengan mimik gelisah. Untuk meringankan penat dan beban pikirannya, seperti biasa, ia mengundang ulama terkemuka agar pikirannya kembali cerah dan segar. Ulama terkemuka yg di panggil saat itu bernama Abu Sammak.
Setelah ulama itu tiba di istana, tanpa menunggu lama Khalifah berkata" Nasihatilah aku".
Sementara seorang pelayan membawa air suguhan untuk Abu Sammak dan Khalifah. Saat hendak meminum, Abu Sammak berkata," Tunggu Sebentar!, seandainya dalam keadaan sangat haus seperti ini kau tidak memperoleh air, berapakah harga yg siap kau bayar ? Jawablah dengan jujur".
Setengah dari kekayaanku,"jawab sang Khalifah.
Abu Sammak mempersilahkan khalifah minum. Selesai minum. Abu Sammak bertanya kembali," Seandainya Air tadi mendesak di keluarkan tapi kau tak mampu mengeluarkannya, berapakah harga yang akan engkau bayarkan agar air itu keluar?."
Khalifah menjawab ,"Setengah dari kekayaanku".
Kalau demikian, sadarilah bahwa nilai seluruh kekayaan dan kekuasaan yang ada di sisimu hanya setara dengan segelas air. Tidak wajar apabila diperebutkan dan dipertahankan tanpa hak. Ketahuilah, betapa banyak nikmat Allah selain segelas air itu yang telah kau terima sehingga tidak wajar jika engkau tidak mensyukurinya," nasihat Abu Sammak kepada khalifah Harun Al Rasyid.
Kesimpulannya...
Secara khusus, kisah ini adalah cambuk bagi orang yang sedang mengemban amanah, jabatan, bergelimang harta. Jabatan bukanlah mainan dan ajang memperkaya diri. Jabatan adalah amanah yang berat, yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawabannya.
Kita bisa bercermin dari khalifah Harun Al Rasyid, betapa nilai jabatan dan kekayaan tidak lebih dari segelas air yang dapat kita beli dengan harga murah. Inilah sesungguhnya hikmah di balik kisah tersebut, di mata Allah, jabatan dan kekayaan itu murah, sangat murah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar