Senin, 05 Mei 2025

Cinta yang Bertumbuh dalam Misi

"Cinta yang besar bukan hanya saling menatap, tapi berjalan beriringan menuju tujuan yang sama."

Semua terasa seperti kilat di siang bolong. Proses yang biasanya penuh drama dan berbulan-bulan persiapan, bagi kami cukup dua pekan saja. Lamaran di bulan Ramadhan, akad nikah di bulan Syawal. Diiringi lantunan Surat Ar-Rahman, aku dipinang dalam suasana penuh haru. “Kupinang kau dengan Surat Ar-Rahman,” ucapnya lirih, namun dalam, menyentuh hingga ke relung jiwa.

Sebagian orang mengernyit, bertanya-tanya. “Kenapa buru-buru? Ada apa ini?” Tapi kami tahu, cinta kami bukan karena ‘kecelakaan’, bukan pula karena paksaan. Kami hanya ingin merancang masa depan tanpa diliputi fitnah, dan ingin melangkah dalam misi yang sama, dengan ikatan yang halal dan diberkahi.

Alhamdulillah, semua berjalan cepat dan dimudahkan oleh Allah. Sat set, wat wet, kata orang sekarang. Tapi kehidupan setelah akad jauh dari kata dongeng. Kami bukan pasangan yang bertahun-tahun saling mengenal, kami hanya dua orang muda yang klik karena visi yang sejalan. Maka dimulailah babak baru: belajar mencintai sambil berkarya.

Menyesuaikan dua kepala dalam satu rumah adalah seni tersendiri. Tapi yang lebih menantang: bagaimana cinta kami bisa hidup bukan hanya di hati, tapi di lapangan perjuangan.

Kami tak punya warisan, tak ada investasi besar, hanya ada semangat, ide, dan tekad yang menyala. Maka kami mulai dari apa yang kami punya: taman jajan. Di sana, kami membuka ruang bagi mahasiswa untuk berjualan—mengasah mental dagang mereka. Aku berjualan seblak, dia membawa brand andalannya: Mawan Milk, susu murni aneka rasa yang sudah punya pelanggan setia di kalangan mahasiswa.

Kami bahkan sempat buka cabang dekat kampus UI, jualan jus aneka rasa. Sayangnya, tak bertahan lama karena keterbatasan tenaga. Lelah? Pasti. Tapi kami nikmati. Pernah juga kami jualan kue subuh sambil jogging. Dapat cuan, dapat sehat.

Namun, kami tahu, ini semua bukan tujuan akhir. Kami ingin membangun sistem yang kuat, bisnis yang tak hanya bertahan tapi memberi manfaat. Kami ingin karya kami berakar dari visi: pendidikan dan pemberdayaan.

Hingga suatu hari, jalan kami terasa seperti dipermudah. Pemilik sekolah tempat taman jajan kami berada, orang yang begitu hangat dan bersahaja, seperti orang tua sendiri bagi kami, membuka peluang besar. Melalui beliau, kami diberi kesempatan untuk membuka bimbel syariah di salah satu ruang sekolah.

Kami gemetar menerima amanah itu. Tapi juga bahagia. Karena akhirnya, benih cinta yang kami tanam dengan keberanian, mulai bertunas menjadi karya nyata.

Inilah cinta dalam bentuk paling indah—bukan hanya saling menyayangi, tapi saling menguatkan untuk tumbuh dan berdampak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar