Senin, 11 Januari 2021

[DUA PULUH SATU]


Karya: Syuhada 

Dua Puluh Satu Tersusun Rapi
Terdiri dari Ikhwan wa Ukhti
Empat Belas Pria yang selalu unjuk gigi, membuktikan bahwa potensi bukan hanya dari akademisi (sedikit membela diri) 
7 Wanita yang dua diantara nya sudah di persunting menjadi isteri
Tapi selalu memberi kontribusi untuk negeri

Ada masa dimana kita tak lagi menyapa
Beruntung jika ada yang masih saling sapa
Karena kini satu di antara kita pun tak mampu untuk bersua
Tapi ku tau itu bukan karena kawanku lupa

Ku tau kawanku sedang sibuk dengan peperangan nya masing-masing

Tiga kawanku kini tak lagi sendiri 
Sudah beristeri dan bersuami

Dua kawanku kini sibuk mengelilingi negeri 
Berkontribusi tidak hanya untuk negeri sendiri, tapi juga untuk menjaga kota suci

Dua kawanku lain nya tidak kenal lelah
Menempuh perkuliahan yang membuat hati menyerah 
Namun mereka tidak pasrah
Dan Tetap terus kuliah 

Satu kawanku sudah lama sarjana
Mencari Batu loncatan agar gelar sarjana tidak percuma 
Tetap menjalankan usaha lama
Usaha yang telah di rintis nya dari muda

Ada pula kawanku, meskipun belum sarjana
Ia selalu tampil berwibawa nan bersahaja
Meskipun kerap tertidur di jam jam pertama 

Laki laki Muda
Meskipun belum sarjana
Mampu menaklukan hati seorang wali dari wanita muda
Keberanian yang tidak di miliki sarjana
Keberanian yang lebih berarti dari menghadapi tiga penguji tua

Ada juga satu orang wanita
Yang Cinta akan fashionista
Semoga cita cita nya kelak akan tercipta

Abangku satu ini, kawan ku meskipun ia sudah jauh dari kata muda
Sang muallaf muda
Sifat gigih nya selalu di jaga
Tak jarang badai silih menerpa
Meskipun pula akhwat yang ingin di jaga sudah beranak dua

Satu lagi anak muda bertalenta
Datang dari negeri nan jauh d sana 
Meskipun muda, ia sudah sarjana
Tak hanya membuat senang orangtua
Tapi juga calon mertua

Ada juga orang jawa namun bisa berbahasa sunda
Bisa di bilang paling pintar d antara sesama pria
Ya.. Dia menjadi ujung tombak ketika pak Adril mulai memberikan soal yang penuh retorika

Wanita muda yang menurut ku jauh dari kata wanita
Hanya jilbab yang menjadi jawaban dari tanda tanya
Memiliki kiprah luar biasa untuk kota
Punya komunitas tidak hanya satu dua
Bersanding dengan abang tercinta
Menjadi sekretaris di komunitas kota

Sosok paling pertama yang berdiri di singasana
Bukan singasana sang Raja di istana
Singasana yang d samping nya bersanding suami tercinta
Kini pun ia sudah menjadi seorang bunda

Sudah sarjana
Sudah juga berdua
Nikmat Tuhan mana yang hendak engkau dusta? 
Wanita kedua yang telah menyempurnakan agama
Semoga keberkahanNya menyertaimu berdua

Kini kawanku berpostur dewasa 
Melebih tinggi rata rata
Rajin membantu orangtua, melanjutkan usaha
Selalu bersama di suka maupun duka

Pria berjiwa niaga muda 
Tak hanya omong belaka
Ia selalu membuktikan kata kata
Sang kapten tercinta

Sisa tiga wanita
Satu sudah sarjana
Meneruskan cita cita
Mengamalkan ilmu agama
Sosok cantik nan Wibawa 
Hafidza dan sarjana 
Siapa mampu menahan rasa suka? 

Dua wanita sholeha
Menjadi pelengkap cerita
Tak ada mereka kelas tidak sempurna
Mereka suka bercerita
Meskipun yang satu di suruh kultum tak juga maju memberi tausiya

Sosok laki sebelum terakhir cerita
Pria yang sekilas seperti berbadan dua
Kini ia sudah sarjana meskipun belum sempurna 
Hendak pulang ke kampung tercinta
Menjadi orang nomor satu di sana

Terakhir menjadi penutup cerita 
Pria muda ini sudah sarjana
Sudah pula menjadi pasangan muda 
Hafalan ia punya, gelar sudah siap sedia, isteri pun selalu ada
Maka nikmat Tuhan mana yang akan kau dusta? 

Ku bangga.. 
Meskipun kini semua tinggal cerita. Semoga ini bisa menjadi potongan kisah muda. 
Kisah yang tak ingin ku lupa
Ku tunggu cerita dewasa kalian di hari tua
Tak peduli berapa Harta yang kalian punya
Ku ingin hanya kalian bercerita dan tertawa bersama

Cerita Qotrina's House

Qotinas House merupakan brand Hijab yang didirikan pada November 2014. Dengan melibatkan pihak investor, saya beserta satu rekan lain bertindak pengelola/mudharib. Pada saat itu model hijab double persegi empat belum banyak ditemukan seperti sekarang. Pertama keluar, kami mengeluarkan dua model dengan banyak kombinasi warna dan motif.
Qotrina House sebelumnya merupakan hijab instan yang tidak dijalankan lagi oleh pihak investor. Kemudian kami bertemu investor dan meneruskan bisnis dibidang yang sama dengan sedikit perubahan konsep produk yangmerupakan sebuah nama dijual. Jadi, brand Qotrinas House sudah cukup dikenal, bahkan account mediasosial sudah lengkap dengan pengikut yang lumayan besar. Hal itu memudahkan saya dalam melakukan publikasi, karena Saya tidak harus memulai semuanya dari nol.
Qotrina’s House dengan konsep baru merubah paradigma wanita berkerudung syar’I berkonotasi ribet, panas, monoton dan kuno. Qotrina yang berarti salju, memiliki filosofi muslimah yang berhijab memiliki kesejukan ketika mengenakan hijab syar’I, bukan panas, gerah dan sebagainya.
Saya yang mengerti bahan kain dan model lebih memfokuskan diri di bagian produksi, sedangkan satu teman saya di bagian marketing dan keuangan. Saya mencari bahan yang layak digunakan untuk menjadi bahan kerudung yang tidak panas, mudah diatur dan pilihan warna yang menarik. Setelah menemukan bahannya, Kami mencari penjhit yang bias diajak kerjasama dalam memproduksi hijab yang kami maksud. Cukup sulit mencari penjahit yang Kami maksud, mereka kurang paham dengan model yang dimaksud, adapun yang paham mematok harga yang cukup tinggi, untuk awalan Kamipun menerima penjait tersebut sambil mencari penjahit yang cocok dengan harga dan hasil jahitannya.
September 2014-Juni 2015
Bisnis mengalami fluktuatif dan masih stagnan. Mayoritas penjualan melayani retail, penjualan langsung ke konsumen didalam kampus, konsumen diluar kampus memang ada namun tidak terlalu banyak. Konsumen diluar kampus banyak didapatkan dari reseller. Penjualan masih mengandalkan pesanan, Kami tidak melakukan stocking karena penjualan masih sedikit. Satu hal yang menyebabkan hal itu adalah pemasaran yang kurang massif. Karena produksi dalam jumlah besar gampang saja dilakukan, namun penjualan yang masih minim memaksa Kami untuk melakukan produksi dengan system Purchase order.
Juni – Agustus 2015
Bisnis memang memerlukan konsisten dan pengorbanan. Terbukti dengan libur semester selama 3 bulan, selama itu pula Kami tidak melakukan produksi. Padahal momen Ramadhan dan Lebaran Idhul Fitri sebenarnya peluang tahunan, dan Kami melewatkan itu karena pada waktu liburan, sebagaimana mahasiswa pada umumnya, kami pulang ke daerah asal masing-masing.
Agustus 2016 - Desember 2016
Pada bulan Agustus –dengan beberapa pertimbangan- Kami menambah personel yang akan focus di pemasaran. Segala program yang akan dijalankan selama sebulan dirancang secara sistematis dan terstruktur, merupakan peningkatan dari sebelumnya. Kamipun menganalisis point-point yang kurang untuk tidak dialami lagi pada usaha yang akan dijalankan ke depan.
Kami menyusun strategi untuk menyasar pasar besar dengan mencari reseller yang sudah punya pasar tetap. Alhamdulillah kami melayani pasar luar negeri dan luar pulau, dan kami memasok beberapa gerai muslimah secara berkala dengan orderan yang cukup besar pada saat itu.
Namun keadaan itu tak berlangsung konsisten. Konsumen yang itu itu saja dan media social belum massif, hal ini dikarenakan ketidakfokusan bagian marketing. Pada akhirnya, karena personel baru itu menyadari ketidakmaksimalannya, iapun mengundurkan diri.
Setelah itu, usaha bisnis kami jalani seperti awal. Namun fill antara investor dengan kami selaku pengelola sudah berkurang. Penjualan yang stagnanpun menjadi salah satu penyebabnya. Yang Saya pribadi rasakan adalah beban terhadap investor karena penjualan yang tidak meningkat, juga antara saya yang masih asyik dengan kegiatan organisasi di Kampus dengan bisnis yang menjadi pertanggungjawaban terhadap investor menjadi pertimbangan selanjutnya. Disisi lain, berkembanganya mode berhijab sangat cepat berubah, dengan taka da satupun diantara kami dengan basic designer membuat Kami susah mengikuti mode. Maka pada Januari 2016 Kami memutuskan menyudahi bisnis ini. 

Kesimpulan dan Saran :
Bisnis memerlukan usaha yang konsisten sedangkan kami masih sibuk dengan tanggungjawab organisasi dan kuliah.
Tak gampang puas dengan usaha dan pencapaian. Ketika usaha tak juga menemukan hasil yang tak sebanding terkadang Saya merapa tak puas dengan besarnya pengorbanan yang dilakukan. dan ketika pencapaian yang tinggi didapatkan, terkadang saya menjadi lebih santai dalam menjalani bisnis.
Pada intinya taka da alasan untuk sebuah kegagalan, karena penyebab kegagalan besumber dari pribadi yang mencari-cari alasan kegagalannya. (EHS)