Kamis, 01 Oktober 2020

TENTANG KEUTAMAAN MEMPELAJARI AL QURAN

Dari Abu Abdurrahman As-Sulami, dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,“Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Pada suatu saat ketika sedang berada di medan jihad, sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman pernah mendengar perselisihan tentang bacaan Al Quran, padahal memang Al Quran Allah turunkan dengan 7 macam bacaan. Dalam sebuah hadits disebutkan : “Al Quran diturunkan dengan 7 huruf, barangsiapa membacanya demikian, maka seperti membaca sebagaimana yang Allah turunkan kepada Rasulullah”.

Abdurrahman bin Abdul Qari’ bahwa dia berkata, Umar bin Khathab ra. berkata; “Aku mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surah Al-Furqan dengan cara yang berbeda dari yang aku baca sebagaimana Rasulullah saw. membacakannya kepadaku dan hampir saja aku mau bertindak terhadapnya, namun aku biarkan sejenak hingga dia selesai membaca. Setelah itu aku ikat dia dengan kainku lalu aku giring dia menghadap Rasulullah saw. dan aku katakan: “Aku mendengar dia membaca Al-Qur’an tidak sama dengan aku sebagaimana engkau membacakannya kepadaku”. Maka, beliau berkata kepadaku: “Bawalah dia kemari”. Kemudian beliau berkata, kepadanya: “Bacalah”. Maka dia pun membaca. Beliau kemudian bersabda: “Begitulah memang yang diturunkan”. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Bacalah”. Maka, aku membaca. Beliau bersabda: “Begitulah memang yang diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh dialek (qira’ah sab’ah), maka bacalah oleh kalian (qira’ah) mana yang mudah”. (HR. Bukhari)

Karena perselisihan-perselisihan tsb, Hudzaifah memberi usulan kepada Khalifah Utsman Bin Affan agar ummat tidak semakin terpecah. Terbentuklah tim pengumpulan Al Quran yang diketuai Zaid bin  Tsabit . Dan hadirlah 6 mushaf Al Quran, satu disimpan di Madinan, dan 5 lainnya dikirim ke Makkah, Syam, Kuffah, Basrah, dan Yaman. Tiap mushaf, dikirim pula seorang muqri nya, seperti Abu Abdurrahman As Sulami yang diutus untuk mengajarkan Quran di Kuffah selama 40 tahun.

Para ulama bersepakat bahwa Rosm Utsmani tidak boleh diubah. Dan setelah pembukuan itu, orang-orang yang memiliki mushaf pribadi harus membakarnya dan hanya menggunakan mushaf resmi, agar tidak ada lagi perdebatan.

Dari Abdullah bin Mas’ud  RA Nabi SAW bersabda :
” Al Quran adalah hidangan Allah. Pelajarilah apa yang bisa kau pelajari. Al Quran adalah tali Allah,cahaya yang terang dan obat yang mujarab, pelindung bagi orang yang berpegang dengannya, penyelamat bagi orang yang mengikutnya. Al Quran tidak bengkok, tidak menyimpang, tidak habis keajaibannya. Bacalah kerana Allah akan memberikan pahala,  setiap satu huruf sepuluh pahala. Aku tidak katakan alim Laam Miim sebagai satu huruf tetapi alif satu huruf dan Laam satu huruf serta miim satu huruf. ” ( HR al Hakim).

Dari Uqbah bin Amir RA, ia menceritakan, “Rasulullah saw. Datang menemui kami di shuffah, lalu beliau bertanya, ‘Siapakah diantara kalian yang suka pergi setiap hari ke pasar Buth-han atau Aqiq lalu ia pulang dengan membawa dua ekor unta betina dari jenis yang terbaik tanpa melakukan satu dosa atau memutuskan tali silaturahmi?’ Kami menjawab, Ya Rasulullah, kami semua menyukai hal itu.’ Rasululullah saw. Bersabda, ‘Mengapa salah seorang dari kalian tidak kemasjid lalu mempelajari atau membaca dua buah ayat al Qur’an (padahal yang demikian itu) lebih baik baginya dari pada dua ekor unta betina, tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta betina, dan begitu pula membaca empat ayat lebih baik baginya daripada empat ekor unta betina, dan seterusnya sejumlah ayat yang dibaca mendapat sejumlah yang sama dari unta-unta.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat pernah mengadukan kondisi orang-orang yang sibuk dengan hadits namun tidak mempelajari Al Quran sebagaimana mestinya. Maka Ali RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Bahwa nanti akan ada fitnah (musibah luar biasa). Bagaimana agar keluar dari fitnah itu? Dengan Al Quran, karena dalam Al Quran ada kabar orang-orang sebelun kalian dan orang-orang sesudah kalian, ada hukum. Orang yang meninggalkan Al Quran adalah orang sombong akan Allah parahkan, orang yang mencari petunjuk selain Al Quran akan Allah sesatkan….” –> Ada yang mengatakan bahwa ini bukan hadits marfu tetapi hadits maukuf perkataan Ali RA.

Dari Zaid bin Arqam RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitabullah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(HR. Tirmidzi,Ahmad,Thabrani)

Dari Jubair bin Muth’im RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : “Hendaklah kamu sekalian bergembira, karena sesungguhnya Al-Qur’an ini ujungnya berada ditangan Allah sedang ujungnya yang lain ditangan kamu sekalian. Oleh sebab itu hendaklah kalian berpegang teguh kepadanya, maka  sungguh kamu sekalian tidak akan binasa dan tidak pula akan sesat sesudah itu selama-lamanya”. (HR. Ath-Thabarani)

Bila para sahabat biasanya bertanya tentang kebaikan, maka sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kejelekan, karena khawatir terjerumus dalam kejelekan itu. Maka Rasulullah SAW menjawab, “Yaa Hudzaifah berpegang teguhlah kepada Al Quran, pelajarilah dan ikutilah.” Sampai diulang 3x.

Dari ‘Ali bin Abi Thalib, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Siapa membaca dan hafal Al-Qur’an lalu menghalalkan yang halal di dalamnya dan mengharamkan yang haram di dalamnya niscaya Alloh akan memasukkannya dengan sebab itu ke dalam jannah, dan menerima syafa’atnya untuk 10 orang dari keluarganya yang kesemuanya mesti masuk ke dalam neraka.” (HR Tirmidzi )

Orang yang menghafal Al Quran sebelum baligh maka ia telah diberi hikmah ketika dia belia. Seperti hadits dari abu Hurairah RA, ” Siapa yang mempelajari Al Quran ketika masih kecil maka al Quran itu akan menyatu dengan daging dan darahnya. Dan siapa yang mempelajarinya saat dewasa, ilmu itu lepas darinya dan tidak melekat pada dirinya, maka baginya pahala 2 kali. “( HR. Baihaqi)

Para sahabat mengatakan, “Kami bila belajar 10 ayat dari Rasulullah, kami tidak akan beranjak ke ayat lain sebelum mempelajari apa-apa yang ada dalam ayat-ayat tersebut”. Umar bin Khattab belajar Al Baqarah selama 12 tahun, sedangkan Abdullah bin Umar mempelajari Al Baqarah selama 8 tahun, karena keduanya mempelajari hingga hukum-hukum dan ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya.
Bagaimana terhadap anak-anak kita? Untuk anak-anak, karena bila dijelaskan hukum-hukum Al Quran belum tentu faham, maka tak apa memulai dengan menghafal dulu. Seperti dalam penanaman iman, mereka ditalqin dulu, seiring dengan usia, mereka diajak untuk memahami dan mendalami ilmunya.
===

Sumber: Kajian Ummahat KAF Tangsel, Kitab Syu’abul Iman, yang disampaikan oleh Ust.Akhmad Nizaruddin, MA.

Dirangkum oleh Wulan Ummu Kayyisah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar